JAKARTA – Guna memasifkan gerakan bersih-bersih fasilitas publik, Disaster Management Center (DMC) Dompet Dhuafa melakukan pelatihan bagi calon relawan penyemprot disinfektan. Pelatihan dilakukan bersama PGI (Persatuan Gereja-gereja Indonesia). Dalam materi pelatihannya, pemateri dari DMC Dompet Dhuafa Eka Suwandi memaparkan standar APD (alat pelindung diri) dan teknis penyemprotan disinfektan.

“Dalam pelatihan tersebut DMC Dompet Dhuafa diminta menjadi pembicara mengenai standar keamanan saat menjadi petugas penyemprot disinfektan. Jadi kita beritahu bahwa jika turun ke lapangan itu butuh memakai APD (alat pelindung diri) dan mengetahui cara kerja alat semprot,” jelas salah satu pemateri dari DMC Dompet Dhuafa Eka Suwandi.

Dikatakan Eka, pemakaian APD digunakan sebagai perlindungan diri dari virusnya dan dan juga untuk perlindungan terhadap bahan kimia dari disinfektan. Sebab cairan kimia dalam disinfektan bisa menyebabkan kulit menjadi iritasi dan gatal-gatal.
“Maka penting juga untuk memakai alas kakai tertutup, disposable wearpack, sarung tangan lateks, helm dan kacamata pelindung. Lalu aroma disinfektan itu kan juga menyengat maka perlu memakai masker untuk meminimalisir bahan kimia yang terhirup,” ujarnya.

Adapun langkah pertama saat melakukan penyemprotan disinfektan adalah memamkai APD. Lalu mengisi tangki alat semprot dengan disinfektan. Selama melakukan penyemprotan penting untuk memperhatikan dan mengetahu area yang sering disentuh atau kemungkinan terkontaminasi. Setelah penyemprotan selesai, petugas dan alat yang dibawa di lapangan harus disterilisasi dengan antiseptik.

“Sterilisasi APD dengan cara dicuci cairan desinfektan dan dijemur dibawah sinar matahari. Kecuali APD disposable, langsung dimusnahkan atau dibuang ke tempat pembuangan limbah infeksius,” papar Eka.

Pelatihan yang diikuti sekitar 30 orang relawan ini dicanangkan akan dilakukan lagi untuk calon relawan penyemprot angkatan kedua hingga seterusnya. (Ika)