Bagaimana Mitigasi Bencana Pada Penyandang Disabilitas? Berikut Penjelasannya

Kawan sigap, saat bencana terjadi, kemungkinan terdapat penyandang disabilitas yang juga menjadi korban. Bahkan mereka akan lebih terpapar dengan resiko yang lebih tinggi kerena memiliki keterbatasan fisik untuk menyelamatkan diri.

Penyadang disabilitas tak jarang mendapatkan perlakuan yang kurang adil. Selain dipandang sebelah mata oleh beberapa orang, keberadaan mereka pun seakan-akan tidak diperhitungkan dalam kehidupan bermasyarakat.

Namun dalam undang-undang Republik Indonesia tentang penanggulangan bencana, penyandang disabilitas diatur untuk mendapat perhatian khusus dan prioritas dalam upaya penanggulangan resiko bencana (Pasal 55 ayat 1), namun lebih lanjut tidak terdapat penjelasan mengenai upaya penanganan penyandang disabilitas padahal mereka harus diperlakukan khusus dikarenakan keterbatasannya. Penyandang disabilitas tidak dapat diperlakukan sama dengan kelompok rentan lainnya, misal bagaimana harus memegang tanpa melukai mereka.

Dengan demikian, penting adanya upaya yang dilakukan dalam mengurangi resiko bencana pada penyandang disbilitas.
Dikutip dari situs resmi Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), terdapat beberapa langkah yang bisa dilakukan dalam mitigasi bencana bagi penyandang disabilitas, yaitu :

Sebelum Bencana

  1. Mengelompokkan penyandang disabilitas berdasarkan wilayah, kondisi, dan jenis disabilitasnya.
  2. Mengkomunikasikan resiko yang akan dihadapi dan bagaimana cara mengatasinya.
  3. Mengkomunikasikan sistem peringatan dini sesuai dengan jenis disabilitasnya.
  4. Meningkatkan keamanan rumah maupun ruang publik.

Saat Bencana

  1. Menjauhkan penyandang disabilitas ke tempat yang jauh dari lokasi bencana.
  2. Fokus pada korban yang sendirian dan belum mendapatkan pertolongan
  3. Evakuasi ke tempat pengungsian atau rumah sakit.
  4. Mengikutsertakan penyandang disabilitas dalam proses pencarian, penyelamatan dan evakuasi yang dilengkapi dengan kebutuhan khusus.

Setelah Bencana

  1. Melibatkan penyandang disabilitas dalam posko pelayanan bencana.
  2. Memberikan pelatihan tentang penyelamatan diri dari bencana.
  3. Memberikan konseling untuk meminimalisir trauma.

Pemberian pelatihan dan pengikutsertaan penyadang disabilitas dalam pengurangan resiko bencana (PRB) sangatlah penting, baik dalam hal pencegahan, mitigasi sampai dengan kesiapsiagaan bencana. Dengan demikian, penyandang disabilitas yang awalnya sering dijadikan sebagai objek, kini berubah menjadi subjek dalam kebencanaan.