Berpotensi Gempa Susulan, Dompet Dhuafa Sulsel Bertolak ke Majene

MAJENE, SULAWESI BARAT — Sebanyak 2.000 jiwa di Kabupaten Majene, Sulawesi Barat, harus mengungsi ke tempat yang lebih aman. Dampak gempa bumi tektonik berkekuatan 6,2 SR yang mengguncang beberapa wilayah di Sulawesi Barat pada Jum’at (15/1/2021) pukul 01.28 WIB itu, disebutkan oleh BNPB (Badan Nasional Penanggulangan Bencana), juga menimbulkan 3 orang meninggal dunia dan 24 orang luka-luka. Sedangkan kerugian material berupa kerusakan pada fasilitas umum dan jaringan listrik masih padam pasca gempa.

Sehari sebelumnya, Kamis (14/1/2021) pukul 14.35 WITA, gempa bumi telah mengguncang wilayah tersebut dengan kekuatan 5,9 SR. Beberapa rumah warga dan satu unit puskesmas roboh. Dampak lainnya, longsor terjadi di 3 titik sepanjang jalan poros Majene-Mamuju dan memutus akses jalan. Kebutuhan darurat sementara saat ini sembako, selimut, dan pelayanan medis.

Berdasarkan info release BMKG (Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika), gempa yang terjadi tersebut tidak berpotensi tsunami, namun warga berbondong-bondong menyelamatkan diri ke daerah berdataran tinggi. Sejumlah tempat seperti Anjoro Pitu, Pattidi, dan Salletto menjadi lokasi mereka untuk mengamankan diri.

“Gempa susulan yang cukup kuat berpotensi terjadi lagi, maka sebaiknya menghindari bangunan dan terus memonitor informasi dari kabar resmi. Juga nampaknya gempa ini merupakan pola peristiwa terulang yang sudah pernah terjadi di tahun 1969, dan pengulangannya terjadi sejak 2019,” sebut Kepala BMKG, Dwikorita Karnawati.

“Dan yang terjadi kali ini berdekatan dengan sumber gempa yang memicu tsunami pada 23 Februari 1969 dengan kekuatan 6,9 SR pada kedalaman 13 Km, dan terjadi gempa juga di 1984,” tambah Bambang Setiyo Prayitno, Kepala Pusat Seismologi Teknik, Geofisika Potensial dan Tanda Waktu.

Hingga berita ini ditulis, tim respon Disaster Management Centre (DMC) terus berkoordinasi bersama Dompet Dhuafa Sulawesi Selatan, yang sedang menuju lokasi kejadian untuk melakukan respon awal. Sahabat, mohon doa terbaiknya untuk saudara kita di Sulawesi Barat.

Gempa bumi tektonik berkekuatan 6,2 SR ini tepatnya berlokasi di darat pada jarak 6 km arah TimurLaut Majene, Sulawesi Barat pada kedalaman 10 km. Dengan memperhatikan lokasi episenter dan kedalaman hiposenternya, gempabumi yang terjadi merupakan jenis gempabumi dangkal akibat aktivitas sesar lokal. Hasil analisis mekanisme sumber menunjukkan bahwa gempabumi memiliki mekanisme pergerakan naik (thrust fault).

Guncangan gempa dirasakan di daerah Majene, Palu, Mamasa, juga Makassar. Sebelum gempa utama, pada pukul 01.25 WIB, hasil monitoring BMKG menunjukan 1 aktifitas gempabumi pendahuluan (foreshock) dengan magnitudo M=3,1. Hingga hari Jum’at, (15/1/2021) pukul 02.20 WIB, hasil monitoring BMKG menunjukkan 6 aktivitas gempabumi susulan (aftershock) dengan magnitudo maksimum M=4,1. Gempabumi ini masih merupakan rangkaian gempabumi pada Kamis (14/1/2021) pukul 13.35 WIB dengan magnitudo M=5,9.

Sejak Oktober 2020, Kepala BMKG, Dwikorita Karnawati, telah menyampaikan kepada masyarakat agar mewaspadai multi bencana di awal tahun 2021. Pada kenyataanya hingga tanggal 15 Januari 2021 sejumlah bencana alam telah terjadi seperti Longsor Sumedang, Banjir di Kalimantan Selatan dan berbagai daerah lainnya, Gelombang laut yang cukup tinggi dan gempabumi di berbagai daerah. Kiranya masyarakat tetap waspada akan potensi-potensi bencana lainnya terutama akibat fenoma hidrometerologi yang diprakirakan akan berlangsung hingga Februari 2021. (Dompet Dhuafa / Dhika Prabowo / Foto: DD Sulsel, BMKG, Istimewa)