Dari Ustad, Penyintas, Hingga Menjadi Relawan Kemanusiaan

Flores Timur, NTT—“Jujur saja, ini pertama kalinya saya menjadi relawan kebencanaan”, pungkas Muhidur.

Muhidur Rahman (31) salah satu relawan kebencanaan Disaster Management Center (DMC) Dompet Dhuafa yang juga merupakan Dai Dompet Dhuafa Angkatan 2020.  Turut serta terjun melakukan respon kebencanaan di Kabupaten Flores Timur.

Waktu pertama kali banjir menghampiri sebagian wilayah di NTT (4/4/2021). Ustad Muhidur sedang berada di wilayah lain melakukan ceramah tausiahnya di wilayah Adonara Barat. Kemudian setelah pukul 02:30 waktu setempat, banjir mulai menggenangi wilayah Adonara. Namun Adonara Timur khususnya Desa Waiburak dan Desa Waiwerang, mengalami dampak yang cukup parah dibandingkan yang lain.

“Saya sedang di Adonara Barat, sempat memang banjir. Tempat tinggal saya di Desa Lamahala juga terkena banjir. Namun tidak separah Waiburak”, tambahnya melalui pesan singkat (21/4/2021).

Melalui kordinasi dari markas DMC Dompet Dhuafa, Ustad Muhidur dan beberapa relawan lokal setempat langsung turut bantu melakukan respon mulai dari evakuasi, membuka dapur umum di empat titik pos pengungsian, menyiapkan kebutuhan logistik dan pelayanan kesehatan.

“Pertama kali kejadian banjir itu, saya merasa terpanggil untuk terjun membantu dan menjadi relawan. Namun di satu sisi, juga diselimuti perasaan sedih melihat dampak yang diakibatkan oleh bencana banjir ini. Ini momen yang sulit bagi saya pribadi”, lanjutnya.

Akses jalur yang terputus di mana-mana dan kebutuhan pokok yang mendesak bagi terdampak menjadi tantangan pertama yang dilalui oleh Muhidin dalam menjadi relawan. Namun menurutnya, membantu sesama yang sedang dilanda musibah juga merupakan bagian dari dakwah. Bahwa Allah SWT selalu mempunyai rencana yang baik bagi umatnya.

Bertepatan dengan bulan Ramadhan, Ustad Muhidur melihat hikmah dari semua kejadian ini. Beberapa kebutuhan penyintas terdampak sudah bisa dipenuhi. Terutama untuk kebutuhan sandang, pangan, dan papan.

“Saya selalu percaya, bahwa akan timbul rasa kemanusiaan di setiap orang. Sehingga Ketika ada saudara-saudara kita yang terkena musibah. Saya yakin, setiap orang mampu mengulurkan bantuan tenaga, waktu, dan semangat. Meski kita sendiri sedang terkena musibah”, tutup Muhidur.