Dibandingkan Astronomi, Iklim juga Punya Andil dalam Membentuk Kepribadian Manusia

Pernah terlintaskah di benak kalian kalau cuaca iklim punya pengaruh yang besar terhadap pembentukan karakter individu? Mungkin agak sedikit sulit untuk mempercayai hal ini. Terutama di tengah masyarakat yang jauh lebih percaya kalau orang dengan rasi bintang kelahiran Cancer itu jauh lebih gampang galau ketimbang dari Leo.

Tapi nyatanya hal ini pernah ditulis oleh salah seorang cendekiawan muslim bernama Ibnu Khaldun (1332-1406). Seorang tokoh sosiolog klasik, filsuf dan sejarawan abad ke-14 ini mengemukakan pandangannya bagaimana cuaca mempengaruhi masing-masing masyarakat dalam karya utamanya yang berjudul Muqqadimah.

Dalam Muqqadimah Ibnu Khaldun menjelaskan bahwa peradaban manusia secara umum bisa berkembang akibat dari sumber daya alam yang tersedia di wilayah tersebut. Termasuk juga iklim. Bagaimana sumber daya alam, pada akhirnya mempengaruhi warna kulit, sistem sosial hingga pada yang paling inti yakni kepribadian.

Ambil contoh, orang-orang Sudan secara umum banyak bersenda gurau. Orang-orang Sudan tinggal di kawasan yang panas. Suhu panas ini telah membentuk kondisi fisik dan psikis mereka. Suhu yang panas ditopang dengan tanah yang subur menambah tersendiri aspek kepribadian seorang individu. Hal serupa juga ditemukan oleh penduduk Mesir yang diluapi oleh perasaan senang dan gembira. Mereka sering lalai hingga lupa untuk menyimpan perbekalan untuk satu bulan atau satu tahun. Kebanyakan atau mayoritas memperoleh makanan mereka dari pasar.

Atau coba lihat negeri-negeri yang berdampingan dengan laut. Udara panasnya berlipat karena ditimbulkan oleh cahaya-cahaya yang dipantulkan oleh laut. Mereka lebih banyak terlihat senang daripada orang-orang yang berada di kawasan pedalaman dan gunung-gunung yang dingin.

Semua ini karena rasa panas  menimbulkan perasaan senang yang menyebar dan memunculkan tabiat senang yang luar biasa. Namun hal serupa tidak terlihat dari masyarakat yang berada di daerah-daerah perbukitan yang dingin. Mereka cenderung lebih banyak bersedih dan overthinking. Sehingga sering kali mereka menyimpan biji-biji gandum untuk perbekalan dua tahun. Mereka pergi ke pasar pagi-pagi sekali untuk membeli bahan makanan harian karena khawatir simpanan mereka terkurangi. Hal ini juga berlaku apabila seorang tinggal di wilayah panas atau dingin yang ekstrem, di mana bertahan hidup merupakan pilihan yang hanya mereka miliki.

Semua penjelasan di atas berlandaskan temuan Ibnu Khaldun yang mungkin membutuhkan konstekstualisasi kembali atau penafsiran ulang agar lebih relevan dengan kondisi yang sekarang. Namun pada tahun 2019, sebuah penelitian dalam jurnal Nature Human Behavior,  yang berjudul “Regional ambient temperature is associated with human personality”. Mengungkapkan bahwa suhu sangat berkaitan erat dengan kepribadian seseorang.

Penelitian yang dilakukan oleh sekelompok psikolog dari China, Australia, United Kingdom dan United State ini, menemukan orang yang tumbuh di iklim dengan suhu lebih rendah umumnya berkepribadian menyenangkan, teliti, stabil secara emosional, terbuka, dan mau mencoba pengalaman baru. Temuan ini berlaku di kedua negara, meski jenis kelamin, usia, dan pendapatan rata-rata mereka bervariasi.

Dengan menganalisa sampel data lebih dari 5.500 orang di 59 daerah di Cina, serta 1,66 juta orang dari sekitar 12.500 daerah di AS. Mereka memeriksa data dari kuisioner kepribadian serta suhu rata-rata tempat di mana orang-orang tersebut tinggal. Mereka melihat apakah seseorang tumbuh di iklim yang lebih ringan, sekitar 22 derajat Celsius atau 72 derajat Fahrenheit memiliki dampak terhadap kepribadian.

Temuan dari penelitian di atas melihat orang yang hidup berada di temperature suhu sekitar 22 derajat celcius cukup mendorong seorang memiliki kecenderungan melakukan interaksi sosial, memliki mental dan emosi yang stabil, serta terbuka terhadap pengalaman baru.

Individuals who grew up in regions with more clement temperatures (that is, closer to 22°C) scored higher on personality factors related to socialization and stability (agreeableness, conscientiousness, and emotional stability) and personal growth and plasticity (extraversion and openness to experience),” sebagaimana laporan penelitian yang dikutip oleh Pacific Standard.

Sedangkan hal yang lainnya, memungkinkan wilayah yang sudah dalam iklim ekstrem, bisa mengalami peningkatan ekstrem kondisi cuaca di tempat tinggalnya. Sehingga dikhawatirkan, ketimbang menjadi lebih menyenangkan dan lebih terbuka, orang malah akan jadi lebih agresif dan tertutup dari dunia luar: sebagai akibat dari cuaca yang ekstrem dan membahayakan tubuh manusia.

“Any changes that might happen as a result of climate change would probably end up being over generations,” he said. And perhaps more significantly, “not all places are going to become warmer,” he added. “Some places will experience harsher winters, while others get hotter and drier,” sebagaimana komentar Jason Rentrow, seorang peneliti psikologi sosial asal Cambridge University terhadap penelitian di atas dalam laporan Pacific Standard.

Belum lagi memperhitungkan kondisi fisik yang terdampak dari krisis iklim: kekeringan air, gagal panen, rentan penyakit dan lain-lain. Hal ini ditakutkan akan memunculkan kejadian “climate apartheid”. Climate apartheid, secara ringkas sebuah kondisi di mana orang yang memiliki kekuatan finansial lebih mampu bisa bertahan dari cuaca yang ekstrem dan kelaparan akibat krisis iklim, sedangkan yang kurang mampu akan menderita karena tidak mampu bertahan dari cuaca ekstrem dan kelaparan, sebagaimana yang pernah diutarakan oleh Philip Alston Pelapor Khusus PBB untuk isu kemiskinan dan HAM pada tahun 2019 lalu.

Dalam laporan Alston, krisis iklim akan mendorong peradaban menjadi kembali kepada 50 tahun yang lalu. Bahkan bisa mendorong 120 juta orang akan hidup berada di bawah kemiskinan pada tahun 2030.

Jadi jika kita melihat laporan penilitian Alston seperti juga disebutkan oleh Ibnu Khaldun, kita bisa melihat terdapat hubungan antara iklim dengan kepribadian manusia. Kehidupan kita dengan alam saling terhubung dan tidak dapat dipisahkan. Karena kita terhubung dengan alam, apakah kita manusia akan terus mengekspolitasi alam hingga terjadi bencana-bencana yang disebabkan oleh kita seperti krisis iklim yang semakin nyata dampaknya? Atau kita akan hadir untuk melestarikan alam dan menjaga hubungan manusia dengan alam?

If climate change is used to justify business-friendly policies and widespread privatisation, exploitation of natural resources and global warming may be accelerated rather than prevented” Philip Alston dalam laman resmi The Office of the High Commissioner for Human Rights (UN Human Rights).

Jadi berdasarkan tulisan di atas, lingkungan sangat berarti bagi kehidupan manusia atau masyarakat. Selain sebagai penunjang kehidupan manusia yang bersifat materi: air, udara, lahan yang bisa dimanfaatkan oleh manusia. Lingkungan juga pada akhirnya membentuk diri kita ke dalam hal yang paling inti: kepribadian salah satunya. Jika kepedulian terhadap lingkungan minim, maka itu tidak hanya akan mengganggu ekosistem lingkungan, tetapi juga akan mengganggu kondisi psikis atau mental seluruh makhluk hidup yang ada di ekosistemn tersebut. Jadi, sudah sejauh mana kepedulian kita terhadap lingkungan memberikan manfaat? Atau justru malah memberikan kerugian terhadap lingkungan dan ekosistem itu sendiri?

Artikel dikumpulkan dari berbagai sumber.