Kolaborasi Dalam Keberagamaan Memutus Rantai Penyebaran Covid-19 di Zona Merah

JAKARTA – Disaster Management Center (DMC) Dompet Dhuafa melakukan penyemprotan disinfektan bersama Relawan Gereja Mencegah Covid-19 (GMC-19) besutan Persatuan Gereja-gereja Indonesia (PGI). Kolaborasi dalam keberagaman ini dilakukan di salah satu zona merah yang ada di kawasan Petamburan, Jakarta Pusat, yakni Sekolah Tinggi Teologi (STT) Bethel pada Rabu (22/04). Aksi gabungan ini dilakukan sebagai wujud persatuan dalam melawan penyebaran pandemi Covid-19 dan keefektifan disinfeksi yang dilakukan.


“Hari ini kita melakukan penyemprotan disinfektan di STT Bethel di mana ada 36 siswa di asrama sekolah tersebut yang dinyatakan positif terjangkit Covid-19. Maka dari itu kita melakukan pengamanan diri yang mumpuni yakni memastikan komunikasi dengan aparat yang berjaga berjalan dengan baik, membatasi dan menyeleksi personil yang akan menyemprot di asrama yaitu mereka yang sudah benar-benar terlatih, memakai APD lengkap, dan melakukan double check kesehatan personil pasca penyemprotan,” terang Awaluddin, Koordinator Lapangan Tim CeKal Covid-19 DMC Dompet Dhuafa.


Pada kolaborasi kali ini, Tim CeKal Covid-19 menurunkan 12 personil sedangkan Tim GMC-19 sebanyak 28 orang. Tak hanya melakukan disinfeksi pada area sekolah dan asrama, tim juga melakukan penyemprotan ke rumah warga sekitar yang cukup padat berjarak. Kolaborasi dimulai pada pukul 14.00 WIB dan berakhir pukul 16.00 WIB.
Koordinator Divisi Relawan GMC-19 Ronal menjelaskan kronologi kolaborasi yang terjalin antara DMC Dompet Dhuafa dan PGI.


“Jadi kami ditelepon oleh pimpinan seminari terkait kasus Covid-19 yang terjadi di kawasan sekolah. Lalu kami melakukan observasi dan berkesimpulan kalau tim kecil bisa lama karena ada lima lantai. Maka dari itu perlu tim besar sehingga mengajak Tim CeKal Covid-19 karena sebelumnya sudah melakukan kolaborasi dan membantu melatih relawan-relawan GMC-19. Kami hubungi pihak kelurahan di sini dan mereka saat mengapresiasi gerakan yang kolaborasi kita lakukan,” jelasnya.


Ronal juga sampaikan kolaborasi dari sebuah aksi kemanusiaan sangat bernilai dan sebaiknya terus dipertahankan. Sebab itu merupakan budaya bangsa bergotong royong tanpa memandang siapa dia. Ia berharap kolaborasi dalam keberagaman seperti ini bisa terus dilakukan di kegiatan lain. (Ika)