Kualitas Udara di Kalimantan Tengah Masih Berbahaya, DMC Dompet Dhuafa Terus Lakukan Respons

PALANGKARAYA – Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) secara rutin merilis infografik yang menunjukkan kualitas udara di wilayah kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Bila dilihat dari tanggal 18 September lalu sampai hari ini, kualitas udara di Kalimantan Tengah masih berada pada level berbahaya. Jumlah titik api berfluktuatif pada rentang masa tersebut, dengan jumlah titik api terendah sebanyak 281 pada tanggal 18 September dan tertinggi sejumlah 1.996 titik api keesokan harinya.

Disaster Management Center (DMC) Dompet Dhuafa masih terus melakukan upaya-upaya untuk mengurangi dampak karhutla kebakaran hutan dan lahan yang terjadi di Palangkaraya, Kalimantan Tengah. Sejak tanggal 17 September DMC Dompet Dhuafa sudah melakukan pemadaman dan pendinginan di wilayah karhutla, membagikan masker, melakukan koordinasi dengan berbagai elemen terkait, membangun safe school hingga melakukan edukasi terkait kabut asap. Demikian dikatakan Koordinator DMC untuk Respons Kabut Asap Kalimantan, Adi Sumarna.

“Tim kita melakukan upaya pemadaman dan pendinginan di Kelurahan Kalampangan, Kota Palangkaraya. Selain itu membagikan masker di daerah yang dipadati warga seperti di jalan-jalan utama, membangun safe school, ruang oksigen dan edukasi mengurangi dampak kabut asap di Madrasah Ibtidaiyah (MI) Al-Jihad di Kota Palangkaraya,” ungkap Adi, Selasa (25/9).

Adi lanjutkan meski kualitas udara masih berada  pada status berbahaya, ia bersyukur sebab hujan mulai turun di wilayah Palangkaraya. Selama kegiatan respons di sana hujan sudah turun empat kali. Hari ini kabut asap juga sudah terlihat lebih tipis walau kualitas udara belum turun level. Maka dari itu sebelum meluaskan wilayah respons ke Kalimantan Selatan, timnya terlebih dulu membangun ruang oksigen di MI Al-Jihad, Jalan Garuda IV, Kota Palangkaraya.

“Mudah-mudahan kualitas udaranya segera membaik dan hujan bisa memadamkan bara-bara api yang tersisa,” tutup Adi.