Lakukan Tujuh Langkah Sederhana Ini di Rumah untuk Minimalisir Dampak Kabut Asap

 

Kebakaran lahan dan hutan (karhutla) kembali terjadi di wilayah Sumatera dan Kalimantan. Dampaknya tidak hanya merusak ekosistem hutan Indonesia sebagai salah satu penyumbang oksigen terbesar di dunia. Hasil pembakaran pepohonan dan vegetasi di sekitarnya juga menyebabkan polusi udara yang berimbas bagi masyarakat sekitar. Maka dari itu, Disaster Management Center (DMC) Dompet Dhuafa melakukan respon cepat di enam wilayah Sumatera dan Kalimantan guna mengurangi risiko karhutla.

Berdasarkan pantauan Badan Metereologi dan Geofisika (BMKG) menyebut kondisi udara terburuk sempat terdeteksi di kota Palembang dengan kandungan konsentrasi PM10 mencapai 579,43 ╬╝gram/m3. Lantas apa itu PM10 dan dampaknya bagi kesehatan?

Dilansir dari berbagai sumber PM10 bisa juga disebut partikulat debu melayang (Suspended Particulate Matter/SPM). Debu ini merupakan campuran dari berbagai senyawa dengan diameter yang sangat kecil, mulai dari < 1 mikron sampai dengan maksimal 500 mikron. Ketika terhirup, partikel ini akan menembus jauh kedalam paru-paru yang akan mengakibatkan gangguan pernapasan, salah satunya ISPA. Selain dapat berpengaruh negatif terhadap kesehatan, partikel debu juga dapat mengganggu daya tembus pandang mata dan juga mengadakan berbagai reaksi kimia di udara.

Beberapa cara yang dirujuk Kementerian Kesehatan berikut bisa dilakukan untuk mengurangi risiko terpapar kabut asap yang mengandung PM10 ini di lingkungan rumah, diantaranya:

1. Menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) yang meliputi pembiasaan mencuci tangan, menutup tempat-tempat air yang mungkin terpapar kabut asap, dan mengonsumsi makanan bergizi.
2. Pastikan pintu dan jendela rumah tertutup rapat.
3. Segel ruangan di sekitar pintu dan jendela dengan perekat atau kain basah.
4. Pastikan pendingin udara (AC) beroperasi sepanjang waktu. Jika tidak ada AC, letakkan kain basah di jendela dan ventilasi. Cuci dan basahi kain sesuai kebutuhan.
5. Tidak melakukan aktivitas yang menambah asap seperti membakar sampah.
6. Letakkan tanaman penghasil udara di dalam ruangan. Tanaman yang sebaiknya digunakan ialah lidah mertua, lili paris, sirih gading, dan suplir.
7. Meletakkan aquarium berisi air, diberi ganggang, dipasangi lampu LED dan diletakkan di dalam ruangan dapat membantu menjaga kelembaban udara sekaligus mengurangi CO2.

Demikianlah beberapa langkah yang bisa dilakukan untuk mengantisipasi bahaya kabut asap dari dalam rumah. Rumah merupakan tempat perlindungan terakhir dari kepungan kabut asap meskipun yang paling baik adalah menjauh dari kawasan terpapar langsung kabut asap.