Pandemi dan Larangan Mudik yang Membuat Kita Harus Lebih Sabar

Di Indonesia, mudik bukanlah sekadar aktivitas rutin biasa. Mudik adalah momen untuk pulang atau going home yang berisi penuh makna. Pulang ke tempat kelahiran, pulang ke pangkuan orangtua, pulang ke kumpulan sanak saudara, pulang ke rahim kehidupan tempat seseorang merasakan keamanan, kehangatan dan juga kebahagiaan.

Musibah pandemi Covid-19 yang belum usai, mengharuskan masyarakat Indonesia mengurungkan niat untuk mudik. Berdasarkan surat edaran (SE) Satuan Tugas Penanganan Covid-19 Nomor 13 Tahun 2021 tentang Peniadaan Mudik Hari Raya Idul Fitri Tahun 1442 Hijriah, Pemerintah secara resmi telah melarang mudik lebaran 2021 selama 6 Mei 2021 hingga 17 Mei 2021.

sumber foto : regional.kompas.com

Larangan mudik tersebut tentu membuat sebagian orang merasa kecewa, karena keinginan mereka untuk pulang ke tanah kelahirannya kembali harus tertunda. Namun larangan dari pemerintah juga diputuskan melalui berbagai pertimbangan, salah satunya agar penyebaran Covid-19 tidak meluas seperti yang terjadi pada saat libur Idul Fitri tahun lalu.

Lalu sikap apa yang seharusnya kita ambil khususnya sebagai seorang Muslim ? Tidak ada hal lain yang bisa kita lakukan selain bersabar, menurunkan ego sendiri demi kebaikan bersama.

…Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan, “Inna lillahi wainna ilaihi raji’un.” Mereka itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Tuhannya, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk. (QS. Al-baqarah: 155-157)

Pengalaman berbagai negara yang jatuh bangun mengalami gelombang pandemi semestinya membuka mata kita, bahwa pandemi bukanlah fatamorgana. Pandemi adalah sebuah kenyataan yang memilukan, berkepanjangan dan memang melelahkan.

Maka, tak heran jika beberapa pengamat menyimpulkan pandemi Covid-19 sebagai salah satu ujian kemanusiaan terbesar dan terberat di abad modern.

Kebijakan pemerintah melarang masyarakat Muslim Indonesia untuk melakukan aktivitas mudik memang sangat tidak nyaman, tapi itulah yang sungguh-sungguh dibutuhkan. Hanya dengan kekuatan, kesabaran dan keteguhan, kita dapat keluar dari kegelapan terowongan yang panjang ini. (DMC/Salam).

Dari berbagai sumber