Penyintas Banjir Warga Alat Miliki Hanya Satu Bilik Toilet di Atas Sungai

KALIMANTAN SELATAN — Banjir Bandang yang menerjang pemukiman warga Desa Alat, Hantakan, Hulu Sungai Tengah (HST), pada Rabu (13/1/2021) lalu, melumpuhkan segala aktifitas warga di sana. Seluruh rumah di desa 6 RT tersebut merasakan dampaknya. Dari yang terendam, rusak ringan, rusak parah, hingga hilang karena hanyut terbawa derasnya aliran banjir.

Tidak hanya itu, berbagai fasilitas umum juga turut terkena imbasnya. Mushalla dan jembatan hanyut, tiang-tiang listrik roboh, juga aliran air ikut rusak dan terputus bahkan dari hulunya. Dengan kondisi rumah yang hanyut, rusak, dan masih belum pulih, keadaan mereka kini sangat kesulitan baik secara pangan dan papan. Solusinya, dengan dibantu oleh para tenaga sukarelawan, mereka mendirikan tenda-tenda terpal di tanah-tanah lapang sekitar rumah mereka, sebagai tempat berteduh dan memasak bersama.

Selain air bersih, mirisnya lagi mereka juga kesulitan untuk mencari tempat buang air. Sebuah bilik kecil di atas aliran sungai, mereka bangun untuk menjadi sebuah WC umum bagi para penyintas dan pengungsi yang ada di sana. Beberapa warga memilih untuk menempati rumahnya. Meski begitu, untuk buang air mereka masih harus berjalan menuju sungai. Sebab, kamar mandi rumah mereka masih rusak dan juga belum ada air yang dapat dialirkan ke rumah mereka.

Jasrani, salah satu penyintas banjir warga RT 03 Desa Alat, memilih untuk tetap menempati rumahnya. Ia berusaha sebisa mungkin untuk tetap tinggal di rumah, sekaligus berusaha memperbaiki dan menata kembali rumah serta barang-barang berharganya yang sempat terendam banjir.

“Banyak orang yang rumahnya hilang. Yang rusak sampai rata dengan tanah juga banyak. Samping rumah saya saja ini roboh tidak tersisa. Kalau saya dan keluarga masih sebisa mungkin tinggal di rumah. Sekalian bersih-bersih. Cuma kalau kendalanya ya mungkin sama dengan yang lain, makanan, air bersih, dan tempat buang air,” ucapnya, Selasa (26/1/2021).

Jasrani melanjutkan, untuk saat ini memang yang masih sangat terkendala adalah air bersih dan tempat buang air. Ada satu masjid yang masih bisa digunakan, namun lokasinya lebih jauh. Selain itu air juga masih sangat terbatas.

“Ada pasokan air bersih dari pemadam kebakaran. Tapi itu sangat terbatas. Hanya boleh kami gunakan untuk minum dan masak. Kalau untuk buang air, kami ke sungai,” lanjutnya.

Koordinator respon banjir Kalsel Disaster Management Center (DMC) Dompet Dhuafa, Maizar Helmi mengatakan, berdasarkan temuan di lapangan, juga menurut pengakuan para penyintas, yang paling mereka butuhkan adalah air bersih dan MCK. (Dompet Dhuafa / Muthohar)