Peringatan Enam Belas Tahun Tsunami Aceh dan Setahun Tsunami Selat Sunda Bersama Squad PB Indonesia


JAKARTA – Disaster Management Center (DMC Dompet Dhuafa) memperingati enam belas tahun tsunami Aceh dan setahun tsunami Selat Sunda bersama Squad Penanggulangan Bencana Indonesia (PBI). Kegiatan yang digelar di GOR Otista pada Kamis, (26/12), ini dihadiri oleh seribu relawan Squad PBI. Berbagai aktivitas dilakukan seperti talkshow, sosialisasi keluarga tahan bencana (KATANA), hingga pemutaran film “Ajari Aku Aceh” karya sineas Aceh Davi Abdullah.

Sebagai salah satu anggota aktif Squad PBI, DMC Dompet Dhuafa turut berpartisipasi dengan menjadi narasumber talkshow yang diwakili oleh Prima Hadi Putra dan menyediakan dapur keliling bagi para relawan yang membutuhkan asupan logistik. Ada beberapa hal yang disampaikan Putra dalam materinya, salah satunya motivasi agar para relawan yang hadir terus semangat.

“Menjadi relawan akan membuat kita menuju banyak tempat dan bertemua banyak orang. Sehingga pengalaman yang kita dapatkan dari lapangan akan menjadi bekal berharga buat menghantarkan pada banyak kesempatan baik di masa depan. Jadi bagi yang masih muda perbanyak dan pertajam keahlian, beruntung sekali jika di masa muda kalian sudah melibatkan diri di dunia kemanusiaan,” demikian diungkapkannya.

Putra juga menceritakan pengalamannya menjadi relawan SAR tsunami Aceh lima belas tahun silam. Ia dan timnya mencapai Aceh di hari kelima belas pascabencana terjadi. Walau sudah memasuki masa minggu kedua, masih banyak jenazah yang perlu dievakuasi mengingat banyaknya korban tsunami setinggi 30 meter itu. Juga meski sudah cukup lama beberapa jenazah ditemukannya dalam kondisi yang masih baik. Menurut Putra hal ini menambah pengalaman spritualnya.

Selain DMC Dompet Dhuafa hadir pula Tion dari Ranita UIN yang membagi pengalamannya menjadi relawan Tsunami Aceh saat masih menjadi mahasiswa. Ia menekankan pentingnya menghidupkan dan memberdayakan kearifan lokal. Ia bilang relawan harus bisa menggali kebudayaan lokal karena sejatinya budaya itu lahir sebagai bentuk adaptasi manusia dengan lingkungannya.