Respon Banjir Jombang, DD Jatim Gulirkan Bantuan Bagi Penyintas

JOMBANG, JAWA TIMUR — Sekitar lebih dari 200 jiwa penyintas banjir dari Dusun Gondangmanis, Manis Renggo, Kandangan, dan Prayungan, terpaksa harus mengungsi karena rumah mereka tinggal terendam air. Sementara itu ribuan warga Jombang lainnya juga merasakan hal yang sama. Lebih dari 100 lembaran terpal tenda terpasang berjejer diatas tanggul sepanjang sungai Brantas, tepatnya di Dusun Kalipura, Kecamatan Bandarkedungmulya.

Merespon hal itu, tim Dompet Dhuafa Jatim mendirikan Pos Hangat yang berlokasi di Balai Desa Gondangmanis, Kecamatan Bandar Kedung Mulyo, Jombang, pada Sabtu (6/2/2021). Di sisi lain, para relawan Dompet Dhuafa Volunteer (DDV Jatim) turut membagikan bantuan logistik antara lain selimut dan tikar kepada para pengungsi, juga beberapa warga yang masih bertahan di rumahnya. Tidak hanya itu, sebagian relawan lainnya melakukan langkah-langkah dukungan sosial emosional, yaitu Psychological First Aid (PFA) untuk anak-anak.

Meski dingin akibat berada di tempat terbuka serta suhu cuaca, warga tetap ingin bertahan untuk bisa tinggal sementara di lokasi tersebut. Pasalnya, mereka pun tidak tahu harus ke mana lagi untuk bertahan. Salah satu keluarga yang bertahan di pengungsian adalah Mursito (47) dan Masyati (45). Mursito mengaku tak ada persiapan sama sekali ketika musibah itu tiba-tiba datang. Barang-barang dan perabotan di rumahnya pun kini sudah hilang, hanyut terbawa air.

“Banjir datang secara tiba-tiba, tepatnya jam 01.00 dini hari, saya bangun sudah selutut. Panik sekali, pun mboten mikir macem-macem. Kulo gadah balita umur 3 tahun, niki seng Kulo slametne rien. Pun mboten mikir liane, tadi siang saya lihat kerumah pakai perahu darurat semua perabotan sudah tidak ada, hanyut terbawa air,” ucapnya.

Demikian juga Pujiati (35), saat kejadian yang paling ia cemaskan adalah tiga anaknya yang masih kecil-kecil. “Saya sudah ndak sempet menyelamatkan barang-barang mas, saya punya anak 3 dan semuanya masih kecil, saya dulukan nyelamatkan anak-anak. Sudah ndak mikir lainnya, sing penting Kulo lan lare-lare ugi Slamet, Banjir jam 1 niku pun langsung dukur. Bingung, Mas,” ceritanya.

Penyintas yang bertahan di lokasi pengungsian tanggul ini memang beragam umur, mulai dari balita hingga lansia. Dikabarkan, salah seorang penyintas lansia meninggal dunia. Kondisinya yang sudah renta ditambah musibah yang menimpa, serta tempat pengungsian yang dingin dans eadanya, menjadikannya semakin kritis. Saat dibawa ke Rumah Sakit terdekat, ia dinyatakan sudah meninggal dunia.

“Kami semua dari tim Dompet Dhuafa langsung bergerak melakukan aksi-aksi respon. Kawan-kawan relawan dari DDV Jatim pun juga dengan sigap bergerak melakukan penanganan-penanganan terhadap para penyintas. Kami ucapkan terima kasih kepada donatur juga peran-peran masyarakat lainnya. Insya Allah bantuan yang salurkan melalui Dompet Dhuafa Jatim ini sangat ber,anfaat dan membantu saidara-saudara kita yang terdampak musibah,” terang Kholid Abdillah, Pimpinan Cabang Dompet Dhuafa Jatim. (Dompet Dhuafa / Jatim / Muthohar)