Sosialisasi Safe School untuk Kurangi Dampak Kabut Asap

JAMBI – Disaster Management Center (DMC) Dompet Dhuafa adakan sosialisasi safe school ke sekolah-sekolah terdampak kabut asap. Sekolah-sekolah ini merupakan sekolah yang berada di lokasi terpapar kabut asap diantaranya Jambi, Pontianak dan Palembang. Demikian dikatakan Desi Edian Sari, Staf Pengurangan Risiko Bencana (PRB) DMC Dompet Dhuafa yang mengawal langsung kegiatan sosialisasi di Wilayah Jambi.

Sosialisasi yang dilakukan berupa edukasi pihak sekolah seputar bahaya bencana kabut asap, penggunaan masker, pengawalan pengadaan Safe School, hingga penggalian budaya masyarakat setempat terkait pembakaran lahan. Program ini melengkapi aktivitas respons darurat kabut asap yang telah dilakukan oleh DMC Dompet Dhuafa dengan melakukan pemasangan sarana penunjang Safe School. Seperti penutupan ventilasi dengan busa dakron, pemasangan kipas angin dan exhaust fan, penempatan tanaman dan juga aquarium di dalam kelas.

“Pihak yang dilibatkan yakni guru, murid, perangkat desa, komite sekolah. Jadi dikumpulkan guru-guru dari beberapa sekolah di satu sekolah bersama dinas pendidikan, masyarakat (tetua yang tahu budaya lokal) dan anak-anak peserta didik. Para peserta kita dorong agar menyebarluaskan isi sosialisasi ini ke sebanyak mungkin orang,” ujarnya.

Desi terangkan sosialisasi ini mendapat sambutan positif dari masyarakat karena mereka mengakui bahwa ini adalah kali pertama mengetahui tentang adanya sekolah aman asap dan menganggap ini sangat penting. Adapun target dari program Safe School adalah agar ada penurunan yang signifikan terhadap bahaya akibat karhutla terutama dalam aktivitas belajar mengajar yang kerap vakum jika karhutla terjadi. Kondisi sekolah yang libur membuat anak-anak berkeliaran di luar sekolah sehingga menambah risiko terpapar kabut asap.

Untuk jangka panjang, program Safe School ditargetkan bisa terselenggara di 60 sekolah di 6 provinsi terdampak kabut asap.

“Penekanannya tidak hanya untuk mewujudkan sekolah aman asap melalui pengadaan sarana prasarana yang dapat melindungi para siswa dan guru di sekolah, namun lebih jauh dari itu adalah pentingnya pemahaman perlindungan diri dari bahaya kabut asap dan juga pengetahuan tentang budaya dan kearifan lokal masyarakat dalam pembukaan lahan yang aman,” ujar Benny, Direktur DMC Dompet Dhuafa.

Ia menambahkan bahwa saat ini dengan masuknya perusahaan-perusahaan perkebunan besar, telah membuat budaya pembukaan lahan yang aman dari kebakaran hutan tidak hanya telah ditinggalkan, namun juga sebagian besar generasi muda saat ini sudah tidak lagi mengetahui adanya kearifan lokal tersebut. Karena itu kegiatan ini penting, tidak hanya bagi para guru namun juga kepada anak didik yang merupakan genarasi penerus bangsa. (Ika)