Tak Harus Berpendidikan Tinggi, Semua yang Bertanggung Jawab Bisa Memberi Manfaat

Ato Parta berusaha memilah ingatan tentang respons kemanusiaan yang paling tak bisa ia lupakan.

“Sebenarnya setiap respons kemanusiaan pasti berkesan dan ada pengalaman baru yang didapat,” ucap lelaki kelahiran Pagelaran, 12 Desember lima puluh tahun silam ini. Tak lama ia kemudian memutuskan bercerita mengenai pengalamannya pada peristiwa letusan Gunung Merapi tahun 2010 lalu. Buat Ato, hal ini berkesan karena waktu itu mereka mendapat “kunci” buat menyelamatkan banyak nyawa.

Saat sedang lakukan koordinasi dengan lembaga-lembaga lain yang terlibat respons, Ato bersama dengan dua rekannya dihampiri oleh relawan mahasiswa UIN Jakarta. Mereka mewartakan bahwa ada satu desa yang penduduknya tidak mau dievakuasi sama sekali. Sementara, kondisi abu dan hawa panas dari Gunung Merapi makin tak karuan. Mendengar hal itu, Ato dan rekannya bergegas menuju desa di kawasan Sleman itu.

“Wah abunya sudah tebal, kebun pohon salak di sekitar desa sudah pada rebah karena gak kuat menahan abu. Debu yang ada di kaca mobil depan harus disiram manual karena penyeka kacanya ga bisa bekerja,” terang mantan driver Disaster Management Center (DMC) Dompet Dhuafa yang kini bergelut di bagian General Affairs (GA) menangani perawatan gedung DMC Dompet Dhuafa.

Saat melintasi desa, ia melihat seorang nenek yang duduk sendirian di beranda rumahnya. Hal yang menurutnya agak ganjil karena sejak mereka memasuki desa tidak ada satupun warga yang berseliweran di luar rumah. Ato dan rekannya menghampiri nenek tersebut. Supaya pendekatan yang dilakukan lebih efektif, rekan Ato mengajak si nenek berdialog dalam Bahasa Jawa. Ternyata, ia dan rekannya tidak mau mengungsi karena ingin mejaga rumah dan ternaknya.

“Nek, di sana (pos pengungsian) lebih enak istirahatnya, makannya. Semua kebutuhan nenek akan disediakan,” kalimat yang disampaikan Ato itu menjadi penggerak si nenek untuk akhirnya setuju pergi ke pos pengungsian.

Sebab sudah lanjut usia, nenek tersebut digotong supaya bisa naik ke mobil yang mereka bawa. Sesampainya di pos pengungsian, si nenek melihat langsung perlakuan yang diberikan tim kemanusiaan Dompet Dhuafa pada semua pengungsi terutama pada kelompok rentan. Tak lama nenek itu berujar,

“Mas, tolong jemput semua keluarga saya,”.

Sebaris pernyataan itu meluncur membuat Ato dan rekannya senang dan lega. Mereka bergegas menyiapkan tiga buah truk bersama empat armada milik Dompet Dhuafa. Proses evakuasi dilakukan dua kali bolak balik karena ada tiga ratus nyawa yang harus diselamatkan.

“Wah lega saya. Ternyata kuncinya di nenek itu untuk mengajak warga yang lain. Jadi selama di pengungsian saya setiap hari mendatangi tiga warung makan untuk menyiapkan seratus porsi saat pagi, siang, malam. Belum lagi dengan ada program lain seperti Pos Hangat dan Trauma Healing. Ga capek, justru senang,” ujar Ato sembari tersenyum.

Bagi Ato yang mengantongi ijazah sekolah menengah pertama, bermanfaat di dunia kemanusiaan tak harus mereka yang punya ijazah tinggi. Dia menilai ada empat poin yang harus dimiliki seorang pekerja kemanusiaan yang tidak hanya dimiliki mereka alumni sekolah tinggi. Empat poin itu yakni ikhlas, sebelum menolong orang lain harus mampu menolong diri sendiri terlebih dahulu, hindari melamun saat melakukan respons, dan berusaha bermanfaat dimanapun berada. Poin ketiga menurutnya penting sebab ada kejadian relawan yang pernah terkena reruntuhan gempa karena melamun saat merespons.

Selain itu, Ato juga selalu menanamkan tanggung jawab pada tiap hal yang diamanahkan padanya. Ia menilai usahanya untuk selalu bertanggung jawab merupakan salah satu alasan kenapa ia menjadi salah satu anggota yang paling lama berkecimpung di DMC Dompet Dhuafa.

“Dulu waktu saya jadi driver, kalau diminta jemput jam 09.00 WIB, setengah jam sebelumnya saya sudah sampai. Sudah pakai pakaian rapi, mobil sudah dibersihkan. Kalau sekarang semenjak bertanggung jawab pada gedung, saya selalu usahakan supaya teman-teman enak dan nyaman kerjanya. Jadi kalau mau pake kertas print, sudah tersedia. Ya begitu,” tutup Ato.

Jelang masa habis kerjanya, Ato berharap bisa terus bekerja maksimal pada amanah yang dititipkan padanya. (Ika)