Menembus Sekumur, Ikhtiar Mengantar Bantuan ke Desa yang Terisolir di Aceh Tamiang

Aceh Tamiang—Aceh Tamiang menjadi salah satu wilayah terdampak banjir terparah di bagian utara Sumatera. Pascabencana di Aceh Tamiang tidak semulus yang dipikirkan. Upaya pendistribusian bantuan yang merata untuk penyintas terhalang akses yang sulit.

Desa Sekumur, Kecamatan Sekerak, Kabupaten Aceh Tamiang, satu contoh desa yang terisolasi sebab akses darat ke sana terputus. Upaya mendistribusikan bantuan ke sana perlu langkah khusus.

Disaster Management Center (DMC) Dompet Dhuafa mengusahakan bantuan bisa menembus Desa Sekumur. Pada Minggu (7/12/2025), tim respons di Aceh Tamiang, menyusuri Sungai Tamiang dari Kuala Simpang menggunakan perahu kayu pada pukul 17.30 WIB. Di atas perahu, sejumlah bantuan logistik pun ikut diangkut.

Selama kurang lebih tiga jam perjalanan menyusuri sungai, pukul 20.30 WIB, tim DMC tiba di dermaga menuju Desa Sekumur. Perjalanan dilanjutkan dengan berjalan kaki selama 30 menit melewati akses yang sedikit terjal akibat rusak karena banjir. Tim DMC melewati balok-balok kayu besar yang ikut terdampar dibawa banjir dan menanjak bukit curam, sebelum benar-benar tiba di lokasi warga Sekumur mengungsi.

Di Desa Sekumur, DMC Dompet Dhuafa menyalurkan bantuan logistik berupa beras, popok bayi, biskuit bayi, matras tidur, lampu panel surya, air minum, serta pakaian layak pakai, untuk warga yang bertahan secara mandiri di perbukitan.

Selain itu, DMC Dompet Dhuafa mendirikan layanan Pos Hangat untuk menyediakan makanan dan minuman hangat kepada penyintas sepanjang malam itu, dan Pos Wifi Gratis.

“Alhamdulillah kita bisa menembus Desa Sekumur. Di mana desa ini terdampak banjir bandang, dan hampir semua rumah yang ada di desa ini hancur. Setibanya di sini tim DMC Dompet Dhuafa men-drop sejumlah bantuan logistik dan layanan pos hangat dan wifi gratis agar warga bisa membangun berkomunikasi dengan saudara di luar Tamiang,” lapor Ahmad Barqu, penaggungjawab respons DMC di Aceh Tamiang.

Ketika banjir terjadi, seluruh rumah di desa luluh lantak. Tidak ada listrik, jaringan komunikasi terputus, dan akses darat yang menghubungkan desa dan kecamatan kota terputus.

Sejak saat itu juga hingga DMC Dompet Dhuafa hadir di sana, seluruh warga Desa Sekumur terputus kontaknya dengan dunia luar. Mereka tidak dapat menghubungi sanak saudara di luar Aceh Tamiang, meskipun hanya sekadar memberi kabar bahwa mereka selamat dari terjangan banjir.

Sementara untuk bertahan hidup di tengah terisolasinya desa, warga mencukupi kebutuhan makan dengan mengolah sumber bahan pangan yang tersisa dan selamat dari rumah-rumah mereka. Dan juga mengambil bahan-bahan makanan dari kebun-kebun yang masih selamat dari terjangan banjir. Tapi itu semua tidak bisa membuat mereka bertahan lebih lama.

Dengan jaringan komunikasi yang terbangun lewat layanan Pos Wifi DMC Dompet Dhuafa, akhirnya warga Sekumur bisa menghubungi keluarga di luar desa. Memberi kabar bahwa mereka selamat.

Suasana penuh haru ketika salah seorang warga untuk pertama kali bertatap muka dengan anaknya lewat video call.

“Terima kasih sudah datang ke Sekumur. Kami sangat bersyukur, kami akhirnya bisa berkomunikasi dengan keluarga kami yang ada di luar. Dan terima kasih sebanyak-banyak untuk Dompet Dhuafa yang sudah membagikan bantuan sembako untuk kami,” ucap salah satu penyintas di Desa Sekumur, Sarah.

Sarah menjelaskan Desa Sekumur terisolir akibat banjir bandang dan longsor. Untuk menuju ke sana dari Kuala Simpang, perlu melewati perjalanan yang sulit dengan melewati lembah, bukit, dan menyusuri sungai.

Oleh karena itu, kehadiran DMC Dompet Dhuafa di Sekumur menjadi pertemuan yang penuh arti untuk mereka yang berjuang untuk bertahan. Karena Bumi Cuma Satu, Berdaya Sekarang. (Muhammad Afriza Adha/DMC Dompet Dhuafa)

Scroll to Top