Lima Kotak Donat dan Cara Tutur Sang Pencipta

Di tanah Sumatera yang basah oleh luka, bencana tidak hanya merobohkan rumah dan jembatan. Ia juga mengoyak rasa aman, menguji sabar, dan diam-diam membuka jalan pulang bagi jiwa-jiwa yang bersedia mendengar. Aku adalah salah satunya—seorang relawan Dompet Dhuafa—yang datang membawa niat menolong, namun justru pulang dengan hati yang dituntun.

Hari-hari menjadi relawan bukan sekadar daftar tugas dan laporan. Ia adalah perjalanan batin. Hendri, namaku, ditugaskan dalam tim asesmen: mencari titik pengungsian, memetakan dampak, membuka jalur aman agar bantuan bisa sampai. Di sela itu, aku juga menjadi relawan Psychological First Aid, mencoba menguatkan jiwa-jiwa yang retak oleh musibah. Namun pada hari ketiga di Kecamatan Palembayan, Kabupaten Agam, aku belajar satu hal yang tak tertulis di buku panduan: bahwa Allah berbicara dengan cara yang paling sederhana.

Pagi itu aku bersama Fauzan, relawan dari Provinsi Jambi yang telah lama berkawan dengan medan bencana. Tugas kami menyisir dampak banjir dan longsor, mendata sekolah serta sarana ibadah yang rusak. Jalanan tak ramah. Mobil terperosok ke saluran air, hujan turun seperti tumpahan langit, dan jembatan—yang sudah empat kali hancur—kini berdiri untuk kelima kalinya, dibangun swadaya oleh tangan-tangan warga dan pemerintah setempat Kampung Kunyit, Nagari Salareh Aia Timur. Jembatan itu bukan sekadar kayu dan paku; ia adalah harapan yang dipaksakan tetap hidup.

Selepas membantu dapur umum, kami kembali menyeberang. Hujan kian rapat. Selepas pukul satu siang, perjalanan berlanjut ke Nagari Tigo Koto Silungkang. Sekitar dua puluh lima kilometer kami tempuh di jalan bekas longsor, tanah licin, batu berserak, dan beberapa kali nyaris tergelincir. Helm kuning di kepala, sepatu bot menahan lumpur, kami berboncengan di atas CB 150 merah—sebuah kendaraan kecil yang menggendong niat besar.

Pukul menunjukkan 16.30. Lapar baru menyapa, jauh terlambat namun tak terelakkan. Kami tersenyum getir—relawan sering disebut pasukan tak takut mati, tapi takut lapar. Aku berkata pada Fauzan, “Bang, nanti makan di warung saja. Apa pun jadilah—sate, bakso, mi ayam. Aku lapar sekali.” Dalam benakku, jarak ke posko sekitar tiga puluh lima kilometer, ke warung terdekat mungkin lima belas atau dua puluh. Hujan masih turun, dan perut mulai bernegosiasi dengan kesabaran.

Di tengah perjalanan, Fauzan tiba-tiba berhenti. Ia berbalik beberapa meter. Di balik rumah warga yang rusak akibat longsor, berdiri sebuah surau kecil di tepi sawah: Surau Gantiang. Kami turun, mendata. Di dalamnya masih ada sisa material longsor, tempat wudu rusak, sejadah dan karpet lembap, pembatas saf patah, Al-Qur’an basah oleh air dan duka. Tanganku mencatat satu per satu, sementara hatiku berbisik lirih, Ya Allah, aku lapar sekali. Jika tak sempat makan yang berat, semoga ada kue-kue saja, pengganjal perut.

Sepasang lansia—sekitar enam puluh hingga tujuh puluh tahun—menyambut kami. Wajah mereka tenang, seolah telah berdamai dengan kehilangan. Kami berbincang tentang jumlah jemaah, pengurus surau, dan kebutuhan warga. Jam menunjukkan pukul 16.45. Aku menunda makan, menunda keluh, dan—tanpa suara—melibatkan Allah dalam percakapan batin.

Di antara penat yang menumpuk di pundak, bagi saya sebagai relawan, justru semangat masyarakatlah yang membuat langkah ini tetap ringan. Senyum mereka hadir di saat badan mulai bergetar oleh dingin dan lelah, sapaan hangat mengalir ketika tenaga hampir habis. Mereka bukan semata korban atau penyintas banjir dan galodo, melainkan sumber daya hidup yang menyalakan kembali nyala kami untuk terus berjalan. Keramahan masyarakat Palembayan—yang sederhana, tulus, dan penuh adab—meninggalkan kesan yang tak mudah tanggal dari ingatan; seolah di tengah duka, mereka mengajarkan kami cara bertahan dengan hati yang tetap lapang dan wajah yang tetap menyambut.

Tak sampai lima menit setelah doa itu dilambungkan, doa dan pinta tentang rasa lapar yang sedang menghampiri, sebuah Avanza berhenti. Di kaca depannya terpasang spanduk: Menghantarkan Bantuan, dari Kota Payakumbuh. Mereka bertanya tentang posko dan keamanan jalan menuju Palupuah. Kami menjawab sejujur dan sehangat yang bisa. Lalu salah satu penumpang turun, menyerahkan satu kotak kepada masing-masing lansia itu. Kepada kami berdua, mereka memberikan lima kotak berbungkus cokelat—kotak segi empat, sederhana, tanpa janji apa pun. Mereka pergi, melanjutkan perjalanan, seolah tak ingin menyaksikan apa yang akan terjadi.

Kami membuka satu kotak. Donat.

Air mataku runtuh tanpa izin. Tangis itu bukan karena lapar semata, melainkan karena Allah menjawab tepat di titik yang paling sunyi. Lima kotak donat—masing-masing berisi empat buah—menjadi bahasa-Nya sore itu. Dua kotak kami berikan kepada sepasang lansia. Satu kotak saya makan, satu kotak Fauzan makan, dan satu kotak lagi kami bawa ke posko untuk relawan lain agar bisa merasakan bahasa cinta dari Sang Pencipta pada kami. Donat itu manis, hangat, dan terasa seperti pelukan.

Di sisa perjalanan, mataku terus basah. Syukur mengalir tanpa perlu kata. Aku paham kini: Allah tidak membiarkan hamba-Nya kelaparan, tidak pula membiarkan ragu tumbuh sendirian. Ia mencukupkan, memberi, dan mencintai—sering kali lewat tangan-tangan yang tak kita kenal.

Menjadi relawan, aku menemukan bahwa perjalanan terjauh bukanlah menyusuri longsor dan jembatan rapuh, melainkan melintasi jarak antara ragu dan percaya. Di sana, lima kotak donat menunggu—sebagai tanda bahwa Sang Pencipta mendengar, menuntun, dan setia memeluk dengan hangat. (Hendri – Relawan Dompet Dhuafa)

Scroll to Top