Ciwaluh, Bogor—Hamparan alam yang indah tampak pada sejauh mata memandang perbukitan Kampung Ciwaluh. Keindahan itu dilengkapi dengan undakan sawah yang asri, sungai yang mengaliri air jernih dengan bebatuannya, serta beberapa satwa yang hidup di dalamnya.
Langkah demi langkah yang berderap melintasi perbukitan itu pun sangat mudah terhenti oleh keindahannya yang tak berkesudahan. Tidak terkecuali juga derap langkah peserta Belajar Lapang Keadilan Iklim yang mengunjungi Kampung Ciwaluh, Desa Watesjaya, Kecamatan Cigombong, Kabupaten Bogor, pada Minggu (16/11/25) lalu.
Kegiatan belajar lapang tersebut diselenggarakan oleh Disaster Management Center (DMC) Dompet Dhuafa pada Kamis-Minggu (13-16/11/25). Dengan diikuti 20 peserta, kegiatan ini dilaksanakan dengan mempelajari secara langsung kegigihan masyarakat dalam memperjuangkan keadilan iklim dan keadilan ekologis di lingkungan tempat tinggalnya.
Begitu pun dengan Kampung Ciwaluh yang di balik keindahan alamnya, tersimpan kisah pilu perjuangan panjang masyarakat dalam mempertahankan ruang hidup serta keadilan ekologis alam Ciwaluh.

Sebagaimana yang dinyatakan Iwan Irvandi, salah satu masyarakat Kampung Ciwaluh, yang mengungkapkan betapa terbatasnya ruang hidup masyarakat usai Kampung Ciwaluh ditetapkan menjadi bagian dari Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP).
“Awalnya Kampung Ciwaluh ditetapkan sebagai kawasan Perhutani di tahun 1970-an. Tetapi masuk tahun 2000, berpindahlah menjadi TNGGP. Lalu setelah itu, lahan kehutanan yang ada di Ciwaluh jadi ada zonasi-zonasi. Masyarakat jadi terbatas untuk bisa mengelola lahan karena Ciwaluh termasuk dalam zonasi rehabilitasi,” ujar Iwan.
Kondisi tersebut sempat membuat masyarakat diselimuti bayang-bayang ketakutan dalam mencari nafkah di lingkungan mereka sendiri.
“Kita sama pihak TNGGP itu kayak kucing dan anjing ya, ketika masyarakat masuk ke hutan datanglah petugas. Masyarakat seolah-olah takut gitu karena mungkin peraturannya misalkan kayak enggak boleh nebang kayu padahal kayu itu hasil nanam masyarakat tapi di lahan garapan taman nasional. Karena sempat ada masyarakat yang ditangkap dan ditahan petugas,” ujar Hendra, yang juga merupakan salah satu masyarakat Kampung Ciwaluh.

Hendra juga menyatakan, terjadinya ketegangan antara masyarakat dengan petugas TNGGP disebabkan oleh ketidaktahuan masyarakat akan aturan yang ditetapkan TNGGP. “Karena kan kita di sini awam ya, tidak tahu peraturan dari TNGGP. Yang masyarakat tahu dulu saya begini bisa, masa sekarang harus begini.”
Kemudian, hal itu pun menggerakkan masyarakat untuk bersatu sebagai Kelompok Tani Hutan (KTH). Bersama dalam KTH, mereka mengajukan skema kemitraan konservasi hingga akhirnya mereka dapat mengelola hasil hutan bukan kayu (HHBK).
“Setelah perpindahan itu kami ajukan kemitraan konservasi dengan didampingi Rimbawan Muda Indonesia (RMI) pada 2018, sampai baru lah pada 2021 akhirnya kami bisa memanfaatkan HHBK dengan ada batasan-batasannya,” imbuh Iwan.
Sementara itu, Fauzan, pihak RMI yang mendampingi perjuangan masyarakat Ciwaluh menyatakan, perjuangan masyarakat Ciwaluh terus menghadapi benturan dengan berbagai kepentingan.
Hal itu sempat membuat mereka hampir terenggut ruang hidupnya sebagai penduduk yang telah mendiami Ciwaluh jauh dari sebelum Indonesia merdeka.
“Masyarakat Ciwaluh ini kalau menurut catatan turun temurun sudah mendiami wilayah ini sejak sekitar tahun 1935. Nah dengan adanya alih fungsi hutan menjadi hutan konservasi, masyarakat merasakan dampak nyata yang tadinya leluasa menanam, memanfaatkan hutan bukan hanya HHBK tapi juga kayunya bisa ditebang untuk membuat rumah dan sebagainya, mulai ada pembatasan sehingga muncul reaksi perlawanan dari masyarakat,” ujar Fauzan.
Fauzan juga mengatakan, ruang hidup masyarakat juga terancam dalam bayang-bayang kepentingan pihak korporasi yang hendak mengalih fungsikan lahan alam Ciwaluh yang indah sebagai tempat hiburan dan rekreasi secara masif.

“Di sisi lain, perjuangan masyarakat mempertahankan ruang hidupnya juga berbenturan dengan kepentingan korporasi yang berusaha masuk sejak tahun 1990-an. Di mana lahan-lahan masyarakat melalui orang lokal dikuasai, dibeli, yang akhirnya Kampung Ciwaluh jadi salah satu kampung yang kepemilikan formal tanah masyarakatnya kurang dari 10 persen dari total luas,” ungkapnya.
Selain merenggut ruang hidup masyarakat, kondisi tersebut juga turut memberikan dampak ekologis yang signifikan bagi lingkungan Kampung Ciwaluh.
“Salah satu hal yang ekstrim kita rasakan perubahannya di sini dalam beberapa tahun terakhir telah terjadi beberapa kali longsor. Terus perubahan cuaca yang tidak menentu juga kita rasakan di sini,” ujarnya.
Hingga kini, keindahan alam Ciwaluh yang panoramanya bak lukisan semesta itu dapat terenggut kapan saja dari genggaman masyarakat. Namun, meski hanya sayup-sayup harapan yang tersisa, masyarakat Ciwaluh dengan keteguhan hatinya tetap tak gentar bertahan memperjuangkan ruang hidup mereka.
“Interaksi antara hutan dan manusia dalam konteks Kampung Ciwaluh sudah berlangsung cukup lama, dan pemanfaatan tradisional sudah menunjukkan bahwa masyarakat mampu menjaga alam dan memanfaatkannya secara berkelanjutan. Nah itu bagian penting yang jarang dilihat dari masyarakat sebagai penduduk yang sudah menetap jauh dari sebelum Indonesia Merdeka,” ujar Fauzan.
Kegigihan masyarakat Ciwaluh itu pun kembali menyadarkan peserta belajar lapang akan sebegitu memilukannya perjuangan menegakkan keadilan iklim. Salah satunya yang diungkapkan Utari, peserta Belajar Lapang Keadilan Iklim.

“Di sini aku jadi belajar bahwa ternyata dalam keadilan iklim ini ada pihak-pihak yang mungkin mereka tidak melakukan banyak terhadap perubahan yang terjadi, tetapi mereka justru yang banyak mendapatkan dampaknya.“
“Ini membuat aku jadi ingin berkontribusi membantu mereka dengan peranku sebagai guru dengan memberikan edukasi kepada peserta didik yang tidak hanya sekedar mendefinisikan krisis iklim tetapi juga memberikan gambaran kondisi yang sebenarnya dihadapi masyarakat,” pungkasnya.
Kawan Baik, mari kita bersama-sama saling bahu-membahu untuk ikut serta berperan dalam mewujudkan keadilan iklim. Sebab, dampak krisis iklim akan menentukan keselamatan bumi kita di masa depan. Karena Bumi Cuma Satu, Berdaya Sekarang. (Shinta FN/DMC Dompet Dhuafa).


