Kerang Hijau Tambakrejo, Harapan Hidup di Senjakala Pesisir

Semarang—Ini adalah kisah tentang bagian kecil dari Semarang yang tak bisa anda temui begitu saja. Kisah ini hanya bisa dialami jika anda berkunjung ke sana dan tidak memilih untuk sibuk dengan gedung ikonik Lawang Sewu, jajanan kaki lima di Simpang Lima, atau lain-lain, dan lain-lain.

Di dunia yang selalu menaruh tempat untuk capaian gemilang sebuah kota besar, kisah ini seperti asap, mudah lenyap, kemudian hilang.

Untuk itulah kisah ini kami tuturkan dengan harapan suatu hari, jika anda membicarakan Semarang, anda juga akan membicarakan Pak Dani, Mas Marzuki, dan Bu Muslimah, dari Tambakrejo.

Mereka itulah yang menyebut kerang hijau adalah harapan hidup dalam arti sebenar-benarnya. Dan cerita ketiganya harus mendapat tempat.

Pak Dani, seorang nelayan yang juga ketua komunitas nelayan Tambakrejo, bercerita kepada kami.

Jauh sebelum hari ini, para nelayan di Tambakrejo, Kecamatan Semarang Utara, Jawa Tengah, menghidupi keluarganya dengan menjual ikan-ikan dan kepiting yang mereka tangkap di laut.

Tak perlu waktu lama setelah jala dilempar ke laut, para nelayan Tambakrejo mampu mengumpulkan ikan-ikan. Begitu juga kepiting yang selalu mudah ditemukan di celah-celah pohon bakau tua yang terhampar sepanjang garis pesisir.

Namun sekarang cerita itu tinggal kenangan. Laut utara Semarang tak lagi menawarkan hasil laut yang melimpah. Industri di sekitar pantai, hilir mudik kapal-kapal besar hingga alat tangkap tak ramah lingkungan dari segelintir nelayan, menyebabkan habitat ikan hancur.

Kondisi buruk semakin memburuk ketika krisis iklim, banjir rob, dan abrasi menggusur paksa daratan pemukiman dan juga hutan bakau alami—tempat kepiting, udang dan biota laut lainnya hidup. Begitu cerita Pak Dani kepada kami.

Alasan-alasan itu menentukan nasib hidup nelayan Tambakrejo. Ketika ikan dan kepiting sudah tak lagi bisa diandalkan, lalu apa yang mereka cari agar bisa tetap hidup?

“Kerang hijau,” jawab Pak Dani dengan tegas.

Penemuan kerang hijau sebagai solusi baru dalam strategi bertahan hidup nelayan tidaklah semulus itu. Dalam arti lain ini sebuah keterpaksaan yang harus ditempuh.

“Awalnya kami tidak tahu-menahu tentang kerang hijau ini. Tangkapan utama kami saat itu ikan dan kepiting. Tetapi alat tangkap sodo banyak jaring-jaring tangkap kami rusak. Terus juga habitat ikan banyak rusak, karena alat sodo ini mendorong apapun yang ada di dasar laut, termasuk terumbu karang,” cerita Pak Dani.

Pak Dani bersama para nelayan memikirkan cara untuk bisa tetap bertahan di tengah persaingan dengan nelayan sodo. Sebuah pencerahan didapatkan, yakni memancang bambu-bambu di tengah laut. Bambu yang berdiri di tengah perairan bisa membatasi ruang gerak alat tangkap sodo.

Bambu-bambu di laut itu, alias rumpon, punya dampak baik untuk kelestarian makhluk hidup laut. Rumpon yang terpancang menjadi tempat baru ikan-ikan berkumpul—yang sebelumnya kehilangan terumbu karang.

“Kelemahan sodo itu tonggak atau bambu yang ditancap di laut. Lalu kalau ada bambu di laut biasanya suka ada kerang hijaunya. Dan juga jadi rumah baru buat ikan. Di awal, tujuan kita untuk menjaga laut dari alat sodo itu, tapi ternyata ada potensi kerang hijau jadi tangkapan utama,” ujar Pak Dani.

Hancurnya ekosistem mangrove di Tambakrejo punya dampak besar terhadap keberlangsungan hidup nelayan. Pak Dani bilang ekosistem mangrove yang kini hilang membuat kepiting jadi sulit ditangkap.

“Dulu mangrove itu ada di sepanjang sungai dan pantai ini, sekarang udah enggak ada. Biasanya habitat kepiting, udang, dan ikan selalu ada di sekitar mangrove. Sekarang sudah tidak ada apa-apa, jadi kita mencari kepiting dan ikan sangat sulit,” kata Pak Dani.

Nelayan Tambakrejo melalui koperasi yang mereka bentuk membangun beberapa rumpon sederhana di laut. Satu rumpon terdiri lebih dari seratus bambu yang berdiri tegak. Satu bambu bisa menghasilkan paling sedikit 10 kilogram (Kg) kerang hijau ketika masa panen.

Untuk harga jual di pasar, satu kilogram kerang hijau di kisaran Rp6.000 sampai Rp7.000. Bila diproses, atau dijual dagingnya yang sudah direbus, kerang hijau bisa mencapai Rp28.000 sampai Rp30.000 per kilogram.

Putaran Ekonomi Rumpon Kerang Hijau

Adanya rumpon kerang hijau memicu perputaran ekonomi yang luas di Tambakrejo. Tidak hanya nelayan yang memanen kerang hijau, keuntungan ekonomi dirasakan juga oleh ibu rumah tangga. Bu Muslimah jadi salah satunya.

Di luar menjaga warung kecil yang ia punya, Bu Muslimah kerap ikut merasakan keuntungan dari kerang hijau ini. Setiap kali nelayan mengambil kerang hijau di rumpon, ia membantu membersihkan kerang hijau sebelum dibawa ke pasar. Atas kerjanya itu Bu Muslimah mendapat upah dari nelayan.

Bu Muslimah diupah Rp7.000 per ember. Satu ember bisa berisi 15 Kg kerang hijau. Dalam setengah hari, Bu Muslimah sanggup membersihkan tiga ember kerang hijau.

Upah dari jasa membersihkan kerang hijau membantu penghidupan Bu Muslimah dan keluarga, terutama untuk kebutuhan gizi anak-anaknya.

“Biasanya kalau dari suami dikasih tiga puluh ribu buat makan, buat tahu tempe saja dan nasi. Nah kalau saya ikut bersihin kerang hijau bisa nambah lauk, ayam goreng dan telur. Jadi sangat membantu,” ucap Bu Muslimah.

Panen Raya Rumpon Kerang Hijau

Pada awalnya, kerang hijau hanya remeh temeh yang menempel secara sembarang di medium-medium yang tidak diperhitungkan.

Perubahan besar terjadi ketika laut tak lagi menawarkan banyak hal, atas dasar itu kerang hijau jadi langkah daya lenting warga pesisir Tambakrejo di tengah degradasi lingkungan pesisir.

Disaster Management Center (DMC) Dompet Dhuafa melalui program Kawasan Pemulihan Pesisir (KPP) menyokong upaya resiliensi warga Tambakrejo atas perubahan yang terjadi pada ruang hidup mereka.

Pada bulan Mei lalu, DMC Dompet Dhuafa bersama para nelayan gotong-royong menancapkan 2500 batang bambu untuk dibuat rumpon. Upaya ini adalah dukungan DMC Dompet Dhuafa untuk penghidupan nelayan pesisir Tambakrejo.

Setelah beberapa bulan sejak rumpon dibangun, pada Selasa, 28 Oktober 2025, nelayan Tambakrejo bisa menuai hasilnya lewat kegiatan Panen Raya—dengan estimasi panen sekitar 250 kuintal kerang hijau, mengingat ada 2.500 batang bambu rumpon yang ditanam.

Mas Marzuki, salah satu nelayan yang ikut memanen, menjelaskan rumpon yang dibangun DMC Dompet Dhuafa untuk nelayan Tambakrejo bisa menjamin panen selama tiga bulan ke depan.

“Ada sekitar 2500 bambu. Kalau dikerjakan 10 orang nelayan bisa sampai tiga bulan panennya,” kata Mas Marzuki.

Panen kerang hijau sudah dilakukan nelayan sejak beberapa hari sebelumnya. Dengan setiap kali panen ada sekitar 3 kuintal kerang hijau yang diangkut. Kata Mas Marzuki, ini karena daya tampung perahu nelayan yang kecil, maka panen perlu diangsur.

Mas Marzuki bersyukur warga Tambakrejo punya rumpon bersama dari bantuan DMC Dompet Dhuafa. Panen raya kerang hijau merupakan kegiatan yang sama sekali baru untuk warga Tambakrejo, terutama sebelum adanya rumpon yang dikelola secara kolektif.

“Kegiatan Panen Raya ini akan terus dilestarikan. Rumpon akan kita jaga. Dari rumpon kerang hijau ini kita berharap alam dan ekosistem ini bisa juga bisa terjaga. Dan kita punya harapan bahwa laut bisa berkelanjutan untuk anak cucu kita,” ucapnya.

Ahmad Baikhaki, Kepala Bagian Lingkungan DMC Dompet Dhuafa, menjelaskan bahwa perubahan lingkungan dan aktivitas industri di sekitar pesisir telah memaksa nelayan beradaptasi. Melalui pengembangan rumpon kerang hijau, warga kini menemukan alternatif ekonomi yang lebih ramah lingkungan.

“Kami mendorong masyarakat memaksimalkan potensi rumpon ini sebagai bentuk resiliensi terhadap krisis iklim,” tuturnya.

Tidak hanya fokus pada resiliensi nelayan di tengah krisis iklim, DMC Dompet Dhuafa bersama WALHI Jateng menaruh perhatian pada rehabilitasi ekosistem bakau di pesisir Tambakrejo. Pada Maret 2025, tertanam satu blok mangrove di sekitar bibir pantai sungai yang hancur akibat rob. (Muhammad Afriza Adha/DMC Dompet Dhuafa)

Scroll to Top