Donggala, Sulawesi Tengah—Pada September 2018 silam, terjadi gempa bumi dahsyat dengan kekuatan 7,7 magnitudo di Sulawesi Tengah, yang saat ini lebih populer dengan sebutan Gempa Palu-Donggala. Bencana ini menelan ribuan korban jiwa, ratusan ribu rumah rusak, dan jutaan orang terpaksa mengungsi.
Gempa Palu-Donggala dapat menjadi pengingat kita untuk selalu waspada di mana pun berada. Kewaspadaan ini bukan hanya saat terjadi bencana, tetapi harus dibangun jauh sebelum bencana terjadi. Salah satu langkahnya dengan edukasi kesiapsiagaan bencana.
Di desa pesisir Marana, Kecamatan Sindue, Kabupaten Donggala, Sulawesi Tengah, ID Humanity Dompet Dhuafa melalui Disaster Management Center (DMC) mengupayakan langkah tersebut dengan memberikan edukasi kesiapsiagaan bencana gempa dan tsunami kepada warga desa, pada Selasa (22/9/2025).

Kabag Mitigasi dan Diklat Bencana DMC Dompet Dhuafa, Achmad Lukman, mengatakan DMC Dompet Dhuafa menaruh perhatian pada peningkatan kapasitas dan kesiapsiagaan masyarakat khususnya di wilayah rawan bencana seperti Palu dan Donggala lewat pendidikan bencana.
“Fokus kami adalah mitigasi, pendidikan, dan latihan bencana agar masyarakat Palu–Donggala lebih siap menghadapi risiko. Dengan upaya ini, risiko korban jiwa dan kerugian bisa ditekan, kesadaran meningkat, serta ketahanan masyarakat dalam menghadapi bencana semakin kuat,” ungkap Achmad Lukman.
Belajar Kesiapsiagaan untuk Pertama Kali
Yulfianti (43), warga Desa Marana, bersama warga lainnya belajar tentang dampak-dampak gempa dan tsunami, langkah-langkah yang harus dilakukan pada 30 detik pertama saat bencana terjadi, dan mempraktikkan cara melakukan pertolongan pertama.
Yulfianti bercerita kepada DMC Dompet Dhuafa pengalamannya saat menghadapi gempa 2018 itu. Yulfianti menyadari saat itu dirinya tidak mengetahui apapun tentang kesiapsiagaan bencana.

“Tembok rumah goyang. Atap seng ambruk. Saya panik karena tidak tahu harus apa,” tuturnya.
Yulfianti menjadi peserta dalam kegiatan edukasi kebencanaan dari DMC Dompet Dhuafa. Ia menilai kegiatan ini membantu membangun kesiapsiagaan warga desa menghadapi situasi bencana ataupun darurat lainnya.
“Ini pertama kalinya saya mengikuti kegiatan pelatihan kebencanaan. Jadi ini sangat membantu saya dan warga di sini. Kalau kejadian bencana terjadi lagi kami akan lebih siap,” ucap Yulfianti.
Gofar (29), peserta dari Desa Kavaya, mengatakan hal yang sama. Ia baru pertama kali mengikuti kegiatan pelatihan kebencanaan. Menurutnya pelatihan menjadi sarana edukasi kepada warga tentang kesiapsiagaan bencana.
“Jadi kami semua mengerti sudah sejauh mana kesiapsiagaan kami untuk menghadapi bencana,” ucap Gofar.

Pria 29 tahun itu tidak memiliki pengetahuan apapun tentang bencana saat terjadi gempa di tahun 2018 lalu. “Berharap pelatihan ini bisa terus diselenggarakan supaya warga lebih siap dan siaga menghadapi bencana,” ujar Gofar.
Kawan Baik, bencana tidak bisa kita tanggapi secara insidental, tapi lebih besar dari itu. Kita perlu mempersiapkan upaya-upaya mitigasi jauh-jauh hari agar masyarakat menjadi tangguh terhadap bencana. Karena Bumi Cuma Satu, Berdaya Sekarang. (Muhammad Afriza Adha/DMC Dompet Dhuafa)


