Video Call Pertama di Tukka

Tapanuli Tengah–Kabupaten Tapanuli Tengah, Sumatera Utara, salah satu wilayah terdampak yang sulit ditembus. 

Daerah ini terisolir beberapa hari pascabencana banjir dan tanah longsor terjadi. Akses darat rusak dan jaringan komunikasi terputus. 

Bahkan, berdasarkan pantauan Tim Disaster Management Center (DMC) Dompet Dhuafa, hingga saat ini masih sering terjadi longsor yang menyebabkan akses jalan tertutup.

Menurut Geoportal Data Bencana Indonesia Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), banjir di Tapanuli Tengah menyebabkan 89 orang meninggal, 82 orang masih hilang, dan 521 orang mengalami luka-luka.

Sementara jumlah pengungsi di Tapanuli Tengah sampai saat ini mencapai 8,8 ribu jiwa. Satu dari ribuan pengungsi itu adalah Masdalifah Hasibuan (50 tahun). 

Masdalifah tinggal bersama suami dan dua anaknya di Hutanabolon, Kecamatan Tukka. 

Rumahnya di Hutanabolon hancur dihantam banjir bandang, Selasa (25/11/2025).

Saat itu Masdalifah berhasil melarikan diri dan keluar dari ancaman terjangan banjir. Ia dan keluarga selamat.

Namun, Masdalifah tetap cemas lantaran belum bisa memberi kabar kepada anak perempuannya di perantauan, di Batam, selama beberapa hari setelah kejadian bencana itu. 

“Setelah bencana itu kami putus hubungan komunikasi dengan anak di Batam,” keluh Masdalifa. 

Damayanti, anak perempuan Masdalifah yang bekerja di Batam, sudah lebih dari sepekan belum menerima kabar apapun tentang nasib keluarganya di tengah kondisi darurat itu. 

Sampai ketika DMC Dompet Dhuafa berhasil memasuki Tapanuli Tengah, khususnya pos pengungsian di Kecamatan Tukka, Jumat (5/12/2025), kabar baik Masdalifa dan keluarga sampai juga di telinga Damayanti. 

DMC Dompet Dhuafa membuka layanan pos WiFi gratis di tempat pengungsian Kecamatan Tukka. Di sana jaringan telekomunikasi akhirnya terbangun. 

Berkat layanan itu juga Masdalifa dan suami bisa menghubungi Damayanti untuk pertama kali sejak bencana banjir bandang terjadi. 

“Senang. Senang sekali. Bisa jumpa anak kami lewat video call. Dia nangis. Dia khawatir sekali. Saya bilang, ibumu, ayahmu, adikmu, kami semua selamat,” cetus Masdalifa. 

Kabar baik Masdalifa dan keluarga di Tukka membuat Damayanti tenang. Cerita sama yang mungkin dialami oleh penyintas lainnya saat sudah bisa bertukar kabar dengan keluarga di luar kota.

“Terima kasih sudah membantu kami. Rasanya puas dan lega setelah saling tukar kabar ke anak kami,” kata Masdalifah. 

Sehari sebelumnya, DMC Dompet Dhuafa mendirikan layanan Pos Wifi Kemanusian di pengungsian Masjid Raudatul Jannah, Kelurahan Aek Sitio Tio, Kecamatan Pandan, Kamis (4/12/2025). 

“Karena listrik dan jaringan masih putus. Kami mencoba hadirkan Pos Wifi Kemanusiaan agar warga bisa menghubungi keluarganya,” PIC Lapangan Pos Respons Bencana Sumatera Utara, Taqi Falsafati.

Di Tukka, DMC Dompet Dhuafa mendirikan layanan Pos Hangat yang menyediakan makanan dan minuman ringan gratis untuk penyintas. 

Selain itu, DMC Dompet Dhuafa mendukung pos pengungsian dengan menyalurkan logistik terpal dan lampu tenaga surya. 

Di tengah kondisi yang masih serba terbatas, upaya membantu pemulihan para penyintas terus dilakukan. 

Kehadiran layanan komunikasi darurat berharap bisa menerbitkan kembali rasa tenang untuk para penyintas. 

Dan utamanya informasi terkini penyintas yang berkaitan dengan kesehatan, keamanan, kebutuhan mendesak, dan situasi darurat lainnya bisa terakses dengan mudah. Karena Bumi Cuma Satu, Berdaya Sekarang. (Muhammad Afriza Adha/DMC Dompet Dhuafa)

Scroll to Top