Tangerang Selatan—Dalam menghadapi situasi darurat, terutama saat terjadinya bencana, penting bagi setiap orang mampu bersikap tanggap bencana. Sikap tersebut dapat dilatih dengan melatih muscle memory mengenai sikap tanggap bencana.
Muscle memory merupakan kemampuan tubuh melakukan suatu gerakan secara otomatis setelah dilatih atau dilakukan berulang. Melansir halodoc, hal ini terjadi karena adanya kerja sama antara sistem saraf dan otot dalam mengingat pola gerakan sehingga gerakan tersebut dapat dilakukan secara otomatis atau tanpa kesadaran penuh.
Adapun bentuk-bentuk gerakan muscle memory di antaranya dapat berupa memainkan alat musik seperti piano dan gitar, berolahraga seperti berenang atau bersepeda, hingga melakukan gerakan sehari-hari seperti berjalan.
Namun, bagaimana muscle memory dapat membuat seseorang bisa tanggap bencana?
Muscle Memory dalam Tanggap Bencana
Kaitan muscle memory dengan sikap tanggap bencana telah banyak menjadi perbincangan di Amerika Serikat (AS). Sebagai wilayah yang rentan mengalami bencana, dalam beberapa kejadian bencananya telah membuktikan bahwa dengan mengasah muscle memory dapat sangat membantu seseorang dalam bersikap tanggap bencana.
Sebagaimana yang dinyatakan staf perpustakaan Ilmu Kesehatan Claude Moore Universitas Virginia, Daniel T. Wilson, yang mengaku menyaksikan bagaimana semua orang dapat merespon tanggap bencana dengan kemampuan muscle memory-nya yang terlatih.
Hal itu ia sampaikan setelah menyaksikan respon orang-orang saat gempa bumi berkekuatan sebesar 5.8 magnitudo mengguncang wilayah Virginia, AS, pada 23 Agustus 2011 lalu, sebagai gempa bumi terkuat di wilayah tengah dan timur AS sejak tahun 1886.
“Usai gempa bumi itu, saya melihat setiap orang merespon gempa dengan cara yang beragam dan di antaranya mampu merespon dengan baik. Dan karena belum pernah ada di antara kami yang mengalami gempa bumi sebesar ini, maka saya pun menyadari pentingnya melatih muscle memory sehingga mampu menyelamatkan diri saat terjadi bencana,” ungkap Daniel mengutip laman Clinton, Essex, Franklin Library System (CEFLS).
Hal yang sama juga dinyatakan oleh arisparis History Associates Incorporated (HAI), Katie Jakovich, saat menghadapi Badai Helene di wilayah Ashville, California Utara, AS, pada 24 September 2024 lalu.
Ia menyatakan, dengan pengalaman pelatihan tanggap bencana yang membangun muscle memory-nya, ia tidak hanya mampu menyelamatkan diri tetapi juga barang-barang arsip bersejarah.
“Sangat wajar bagi kita merasa panik saat bencana dan itu membuat kita jadi tidak bisa melakukan apa-apa. Di sinilah kemampuan muscle memory tentang tanggap bencana sangat dapat membantu kita untuk bergerak dengan cepat menyelamatkan diri. Dan kemampuan ini hanya dapat dibangun melalui pengalaman dan pelatihan,” ujarnya mengutip laman HAI.
Tidak hanya itu, Katie juga mengungkapkan pentingnya pelatihan tanggap bencana sebagai arsiparis yang ia peroleh saat masih menduduki bangku perkuliahan.
“Selama studi pascasarjana, satu kelas saya diajak mensimulasikan banjir di bawah bimbingan seorang profesor konservasi yang berpengalaman. Kami diajarkan untuk menyelamatkan diri dan menyelamatkan barang-barang arsip yang kami bawa. Awalnya saya mengira itu tidak begitu penting, namun seiring berjalannya waktu saya memahami pelatihan itu untuk membangun muscle memory yang sangat diperlukan saat terjadi bencana,” tambahnya.
Lebih lanjut, Daniel juga mengungkapkan bahwa dengan membangun muscle memory tanggap bencana, seseorang menjadi mampu memprediksi sikap yang harus dilakukan alih-alih hanya sekedar panik dan menjadi trauma.
“Dengan membangun muscle memory yang melibatkan tindakan berulang, memungkinkan kita mampu memprediksi respon tententu saat menghadapi bencana. Tanpanya, kita berisiko mengalami kejadian traumatis, karena pikiran kita terlalu panik dan tidak membantu kita menyelamatkan diri,” ujarnya.
Pelatihan Tanggap Bencana DMC Dompet Dhuafa

Dalam hal ini, Disaster Management Center (DMC) Dompet Dhuafa pun turut menginisiasi program pendidikan tanggap bencana. Sebab, keselamatan dan keamanan saat terjadi bencana merupakan hak semua orang, terutama bagi kelompok rentan seperti disabilitas, lansia, dan anak-anak.
Adapun salah satu program yang digalakkan DMC berupa Satuan Pendidikan Aman Bencana (SPAB) di semua jenjang sekolah, mulai dari Taman Kanak-kanak (TK) hingga Sekolah Menengah Atas (SMA).
Dalam program ini, DMC ingin menanamkan kesadaran kepada para siswa, guru, dan seluruh warga sekolah mengenai kebencanaan baik sebelum, saat, maupun setelah bencana terjadi. Hal itu dilakukan dengan pemaparan materi yang mencakup dasar kebencanaan, mitigasi bencana, pertolongan pertama, serta teknik evakuasi.
Kemudian, DMC juga turut memberikan simulasi bencana seperti gempa bumi, banjir, hingga kebakaran. Sehingga melalui pembelajaran tersebut, para siswa dan seluruh warga sekolah dapat membangun muscle memory tanggap bencana yang dapat membantu mereka menyelamatkan diri saat terjadinya bencana.
Kawan baik, dengan melatih kemampuan muscle memory tanggap bencana, dapat memungkinkan kita mampu berdaya bagi diri sendiri maupun bagi orang-orang di sekitar kita. Karena Bumi Cuma Satu, Berdaya Sekarang. (Shinta Fitrotun Nihayah/DMC Dompet Dhuafa).


