DMC Dompet Dhuafa dan WALHI Ajak Publik Bahas Krisis Iklim Lewat Film ‘Benteng Terakhir’

Semarang—Dampak krisis iklim di kawasan pesisir kian nyata mengancam kehidupan sehari-hari masyarakat. Berbagai upaya adaptif telah ditempuh namun nampaknya hal ini masih memerlukan kolaborasi partisipatif dari berbagai pihak untuk menempuh solusi yang efektif.

Melihat hal itu, ID Humanity Dompet Dhuafa melalui Disaster Management Center (DMC) berkolaborasi dengan Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) Jawa Tengah menggelar penayangan dan diskusi film Dokumenter “Benteng Terakhir” di Auditorium Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK) Universitas Diponegoro (UNDIP), Semarang, pada Rabu (10/09/25).

Dengan dihadiri oleh masyarakat umum, mahasiswa, akademisi, serta sejumlah perwakilan dinas terkait, film dokumenter ini menampilkan kisah nyata kehidupan sehari-hari masyarakat pesisir Bedono, Tambakrejo, dan Roban Timur, Jawa Tengah, dalam menghadapi tantangan krisis iklim yang kian mengancam keseharian mereka.

Staf Lingkungan DMC, Zaenal Murtado menyatakan, dengan melalui penayangan film dokumenter ini diharapkan agar potret dampak nyata krisis iklim di kawasan pesisir semakin menjadi perhatian bagi berbagai pihak terkait.

“Masyarakat pesisir sudah melakukan banyak hal untuk bertahan. Sehingga memastikan agar kebijakan bisa menggunakan pendekatan yang lebih partisipatif bagi masyarakat dalam hal perencanaan pembangunan menjadi hal yang harus kita pikirkan bersama. Karena hal ini akan berdampak pada mereka dan juga pada keberlanjutan ekosistem,” ujarnya.

Senada dengan hal itu, Akademisi FPIK Undip, Aris Ismanto menyatakan, degradasi mangrove yang ditampilkan dalam film dokumenter seharusnya dapat mendorong adanya kolaborasi antara masyarakat setempat dengan berbagai pihak terkait.

“Jika ada kolaborasi antara baik itu pihak industri, pemerintah, dan masyarakat, permasalahan yang ada khususnya terkait ekosistem mangrove ini bisa kita kendalikan. Karena yang lebih tahu kondisinya dan merasakan dampaknya tidak lain masyarakat yang tinggal di area tersebut,” tutur Aris.

Acara berlangsung dengan diskusi interaktif yang membahas isu-isu terkait perlunya tata ruang yang lebih partisipatif, pembangunan yang berwawasan lingkungan, serta peran penting kolaborasi lintas sektor untuk menjawab tantangan pesisir.

Diskusi ini menjadi ruang strategis yang mempertemukan pengetahuan akademik, pengalaman masyarakat, dan tanggung jawab pemerintah.

Sementara itu, Irma Lina Mayunah, salah satu peserta yang juga merupakan mahasiswa yang menghadiri acara ini, menyatakan penting adanya keterlibatan anak muda untuk turut serta dalam menjawab tantangan pesisir.

“Sebagaimana yang kita tahu masyarakat pesisir sebenarnya memiliki kesadaran dalam menjaga ekosistem di wilayah mereka namun mereka masih memerlukan wawasan lebih mendalam tentang hal itu. Sehingga ini sangat penting sekali bagi kita sebagai anak muda untuk menjembatani pengetahuan seperti itu untuk membantu menjawab tantangan yang mereka hadapi,” ungkap Irma.

Kawan Baik, kegiatan ini merupakan bagian dari komitmen DMC Dompet Dhuafa untuk hadir bersama masyarakat menjawab tantangan pelik mereka di pesisir. Semoga komitmen ini pun menginspirasi pihak-pihak terkait lainnya sehingga dapat menempuh solusi yang efektif atas berbagai permasalahan yang ada. Karena Bumi Cuma Satu, Berdaya Sekarang. (Shinta Fitrotun Nihayah/DMC Dompet Dhuafa).

Scroll to Top