Serukan Anak Muda Rawat dan Jaga Alam, Kang Kholid Tegaskan Alam sebagai Saudara

Pontang, Banten—Di tengah teriknya matahari siang itu, sekelompok anak muda saling bahu-membahu dengan penuh semangat menanam mangrove. Sembari melangitkan harapan akan kebermanfaatannya di masa mendatang, sebanyak 300 mangrove itu mereka tanam di pesisir Desa Domas, Kecamatan Pontang, Kabupaten Serang, Banten, pada Sabtu (15/11/25) lalu.

Sekelompok anak muda itu merupakan peserta Belajar Lapang Keadilan Iklim yang diselenggarakan oleh Disaster Management Center (DMC) Dompet Dhuafa. Kegitan ini berlangsung selama empat hari (13-16/11-25), diawali dengan pembekalan materi dan dilanjut dengan belajar langsung bersama para pejuang keadilan iklim di Padarincang-Banten, Pontang-Banten, dan Ciwaluh-Bogor.

Kehadiran peserta disambut baik oleh para pejuang keadilan iklim, tidak terkecuali juga Kang Kholid dan Kang Heri, tokoh pejuang keadilan nelayan dan petani asal Pontang.

“Alhamdulillah saya ini bahagia, artinya masih ada anak-anak muda yang peduli tentang persoalan yang ada di muka bumi ini. Terutama persoalan tentang iklim. Nah teman-teman dari jauh-jauh nanam mangrove di sini, sesungguhnya kalian hari ini sedang melakukan sedekah kepada saudara (alam) kalian sendiri,” ujar Kang Kholid sumringah.

Kegiatan belajar bersama Kang Kholid dan Kang Heri dilakukan usai menanam mangrove. Para peserta duduk berjejer rapi di bibir pantai yang diiringi deru debur ombak.

Sebagai pembuka, Kang Kholid pun lantas menarik benang merah dari makna sesungguhnya dalam menjaga dan merawat alam itu sendiri.

“Menurut saya, ruhnya alam semesta adalah manusia. Yang membedakan manusia di antara mahluk Allah lainnya itu akalnya. Cuma persoalannya apakah saat ini manusia masih menggunakan akalnya. Atau mungkin tidak mengerti tentang akal itu sendiri sehingga pola laku di kehidupannya tidak menggunakan akalnya kemudian timbullah persoalan iklim dan segala macam,” ujarnya saat membuka sesi sharing belajar lapang.

Lebih lanjut, Ia menyatakan, krisis iklim yang kian nyata dirasakan saat ini tidak lain disebabkan oleh tangan-tangan manusia itu sendiri. Meski manusia memiliki kelebihan dengan akalnya, tidak lantas melampaui keinginannya yang serakah dan rakus hingga menciptakan berbagai kerusakan di alam semesta.

Padahal, Kang Kholid bilang, menjaga alam dan merawatnya juga bagian dari perintah Tuhan. “Ketika kita mencegah mereka yang sedang mencoba merusak apa yang ada di laut, di gunung, di daratan, itu berarti kita sedang melakukan kebajikan dan mencegah kemungkaran. Itu juga perintah Allah, amar ma’ruf nahi munkar,” ujarnya.

Dalam penuturannya, Ia juga menggambarkan tentang sejauh mana kondisi alam yang kini sudah tidak lagi dapat diprediksi secara akurat seperti sebelumnya. “Alam ini jadi pikun. Yang harusnya angin timur jadi angin barat. Padahal belum waktunya. Besoknya lagi angin timur. Jadi kayak angin aja nih bingung,” ucapnya.

Sementara itu, Kang Heri menyatakan, dampak dari “pikun” nya alam itu begitu nyata dirasakan para nelayan. Produktivitas mereka dalam mencari nafkah sudah tidak lagi seperti dulu.

“Jika kita melihat sekitar tahun 90-an, sebelum industri di hulu itu berdiri, masyarakat pesisir pontang ini makmur. Tambaknya produktif semua sampai bisa bikin mereka berangkat haji 3-4x hanya dari hasil udang, belum ikan,” ujar Kang Heri.

Lebih lanjut, Kang Heri turut menceritakan awal mula dampak nyata itu dirasakan masyarakat usai terjadinya penambangan pasir laut, di mana hal itu juga menjadi salah satu faktor penyebab keruhnya air laut saat ini.

“Dampak penambangan pasir laut ini luar biasa. Pertama, terumbu karang di sini rusak, kedua, ada kantong-kantong lumpur di situ jadi ketutup pasir kan, nah ketika disedot, kantong lumpurnya pecah, sehingga kemudian lihat sendiri, laut di sini airnya jadi keruh. dulu di sini banyak rajungannya. Sekarang hampir enggak ada rajungan itu. Hanya musim-musim tertentu aja,” ujarnya geram sekaligus pilu.

Semangat perjuangan keduanya mewakili semangat seluruh nelayan dan petani Pontang yang turut bergerak dalam kelompok Front Kebangkitan Petani dan Nelayan (FKPN). Kang Kholid bilang, FKPN ini terbentuk sejak terjadinya huru-hara penambangan pasir laut tersebut pada sekitar tahun 2003-2004.

Inovasi Budidaya Rumput Laut Pontang

Meski begitu, Kang Kholid tampaknya tidak sama sekali gentar akan konflik yang sedang terjadi. Di balik nestapa yang Ia rasakan bersama nelayan lainnya, Ia justru menemukan secercah harapan yang dibawanya dari daratan pesisir Kalimantan.

Kepada peserta, Ia menceritakan bagaimana rumput laut yang merupakan harapan yang dibawanya dari Kalimantan itu menjadi berkah bagi masyarakat di tengah konflik yang masih kerap menerpa mereka saat itu.

“Nelayan ini kan sampai pada gantung jaring alias gak bisa melaut. Nah saya mencoba mencari jalan keluar. Artinya selain nangkap ikan juga harus ada sumber lain untuk jadi mata pencaharian nelayan.”

“Waktu itu awalnya saya terdampar di wilayah Babulu Laut Kalimantan. Karena saya enggak punya saudara di sana, dan karena itu di wilayah pesisir saya senang aja main di sana. Nah ada pepohonan, karena kondisi lagi lapar, saya pikir ini enak dimakan. Kemudian, di situ saya bertemu seseorang yang ternyata seorang peneliti. Di situlah saya diajarkan jenis-jenis rumput laut itu ada katoni, gracilaria, geldium,” ujarnya.

Sepulang dari Kalimantan, Kang Kholid pun mencoba membudidayakannya di wilayahnya sendiri. Meski pada mulanya tidak dihiraukan masyarakat lainnya, namun budidaya itu pun pada akhirnya menuai keberhasilan.

“Pada waktu itu pada menyangkal enggak mungkin tumbuh (rumput laut) karena kondisi airnya keruh. Tapi saya sudah tes, langsung hidup. Akhirnya karena saya enggak mau buang-buang waktu, yaudah, dari mulanya misal 10 kg, jadi 100 kg sampai jadi 1 ton. Terus mekarlah di sini musim katoni. Masyarakat kita ajarkan sampai bisa budidaya dan memasarkan sendiri,” imbuhnya.

Hingga di penghujung sesi, para peserta pun tampak takjub akan kepiawaian Kang Kholid dan Kang Heri dalam membagikan wawasannya yang luas sebagai seorang nelayan. Hal itu kemudian sempat memacu semangat peserta untuk bisa ikut serta dalam menyuarakan keadilan lingkungan.

Dengan penuh harap, keduanya mengajak peserta agar setidaknya ikut melangitkan doa untuk sama-sama menjaga alam.

“Kami hanya berharap, teman-teman di sini punya kesadaran penuh. Apa yang bisa perbuat untuk kebaikan semesta ini karena Allah, lakukan. Apapun itu, walau selangkah semut, itu pasti berguna. Misalnya kayak di media sosial, minimal nge-like (postingan tentang keadilan iklim). Paling terkecilnya doa. Doa keselamatan dan kesejahteraan untuk kita semua,” pungkasnya.

Mendengar hal itu, tampak binar-binar haru penuh harap pada kedua mata Reza Hesti, salah satu peserta belajar lapang. Ia mengaku kagum dengan kegigihan pejuang keadilan iklim dalam menjaga alam dan ingin ikut serta menyuarakannya dengan caranya sendiri sebagai seorang guru.

“Sebagai seorang guru, tentunya saya merasa punya kewajiban untuk bisa memberikan pendidikan kepada murid saya tentang perbaikan lingkungan sehingga bisa ikut berkontribusi meredam terjadinya perubahan iklim. Agar kelak mereka dewasa bisa jadi agen pengubah, bukan sebagai orang yang ikut merusak alam,” ujarnya. Karena Bumi Cuma Satu, Berdaya Sekarang. (Shinta FN/DMC Dompet Dhuafa)

Scroll to Top