DMC Dompet Dhuafa dan Warga Timbulsloko Menjaga Makam dari Ancaman Abrasi 

“Orang tidak akan terikat pada suatu tempat sebelum ada keluarganya yang dikuburkan di tempat itu,” ujar Jose Arcadio Buendía, tokoh fiktif dalam One Hundred Years of Solitude, novel legendaris Amerika Latin karya maestro asal Kolombia, Gabriel García Márquez. 

*** 

Di tengah semburat sinar mentari yang terik siang itu, warga Desa Timbulsloko, Kecamatan Sayung, Kabupaten Demak, Jawa Tengah, berkumpul di tempat pemakaman umum (TPU) desa. Tidak ada yang dikubur saat itu, di sana mereka untuk menghijaukan pemakaman dengan tanaman mangrove yang mereka tanam. 

Dengan menanam 1000 bibit mangrove setinggi 30 – 50 sentimeter (cm), mereka berharap makam akan terus terjaga sampai tahun-tahun berikutnya. 

Tempat Pemakaman Umum Desa Timbulsloko menjadi satu-satunya daratan tanah yang masih ada di desa tersebut—sisanya lenyap tenggelam di bawah abrasi air laut utara Jawa.  

Ashar, yang karib disapa Pak Har, seorang warga Desa Timbulsloko menjelaskan makam-makam yang ada di desa merupakan salah satu alasan besar mereka tetap bertahan di sana.  

Orang-orang yang telah lama meninggalkan desa ini masih terus datang kembali hanya untuk berziarah di makam keluarganya saat menjelang bulan Ramadan atau saat lebaran. Kesempatan itu sekaligus ajang menjaga hubungan baik dengan kerabat lama yang masih menetap di Timbulsloko. 

“Orang tua kita dimakamkan disitu, karena ikatan batin dengan orang tua nggak akan pernah hilang, kita sama orang tua nggak akan pernah lupa. Ibu saya dimakamkan disitu,” ucap Pak Har.  

“Masih banyak yang ziarah ke makam itu, paling kalau rame itu waktu lebaran kalo ga tiap malam Jum’at,” lanjutnya. 

Sejak tahun 2020, saat air menenggelamkan banyak rumah di Timbulsloko. pemakaman diatur sedimikian rupa agar tidak tenggelam. Awalnya air sudah masuk ke halaman dalam TPU, membasahi makam-makam yang ada. Tinggi air memang tidak menenggelamkan seluruh gundukan makam, tetapi tetap  membuat warga khawatir.  

“Dulu sebelum ditinggikan kalau ada orang meninggal bisa beli makam diluar, maka orangnya dimakamkan diluar. Kalo nggak bisa beli makam ya dimakamkan disini. Dan saya sebagai penggali makam bersama pemuda-pemuda, alhamdulillah masih ada jiwa solidaritas,” ungkap Pak Har. 

Secara tersirat, Pak Har menjelaskan bahwa daya beli ekonomi warga sangat menentukan apakah jenazah anggota keluarga dapat dimakamkan di luar kampung dengan aman, atau harus disemayamkan di Timbulsloko. Sebagian warga yang masih bertahan sebenarnya berharap bisa menguburkan orang terdekat mereka di tanah kelahiran. Namun, kondisi makam yang rawan hilang akibat abrasi menjadi persoalan serius. 

Pada akhirnya, usaha besar dilakukan warga dengan memancang bambu-bambu di sekeliling TPU. Tidak hanya itu, bambu yang terpasang dilengkapi ratusan ban mobil bekas guna menahan arus air laut.  

Di balik sepanjang lingkaran benteng kombinasi bambu dan ban mobil bekas dibuatlah parit untuk menahan air tetap menggenang di sana, tanpa harus menggerus tanah pemakaman.  

Pada siang itu, di bawah sinar matahari yang terik, Sabtu (24/5/2025), Disaster Management Center (DMC) Dompet Dhuafa bersama warga Timbulsloko melengkapi upaya warga menjaga pemakaman dengan menanam mangrove di sepanjang parit. 

Usaha yang dilakukan DMC Dompet Dhuafa dan warga Timbulsloko siang itu merupakan bentuk komitmen agar lahan pemakaman Timbulsloko terus ada sampai kapan pun, tanpa harus hilang tergerus air laut yang terus menyelinap.  

“Saya pribadi mengucapkan terima kasih banyak (kepada DMC). Masalahnya kalau bukan ditanami mangrove seperti itu makam bisa hilang. Dan seluruh warga Timbulsloko menghaturkan banyak terima kasih kepada DMC Dompet Dhuafa dan berharap ini semua bisa berkelanjutan,” ucap Pak Har. 

Zelina Alegra Dinanti, staf Lingkungan DMC Dompet Dhuafa mengatakan penanaman mangrove di lahan pemakaman Desa Timbulsloko merupakan jawaban atas kekhawatiran warga Timbulsloko atas ancaman tenggelamnya lahan pemakaman.  

“Dengan membantu penanaman bibit mangrove ini diharapkan mampu menjaga apa yang tersisa di Timbulsloko saat ini. Bagaimana pun juga menjaga lahan pemakaman tetap bertahan berarti juga menjaga ikatan warga di sana dengan tempat kelahirannya,” ujar Zelina.  

Dalam aksi menanam mangrove dan membentengi makam dari abrasi, tersimpan harapan agar mereka tetap bisa berpijak, meski hanya pada sepetak tanah terakhir yang belum lenyap.  

Kawan Baik, seperti kata José Arcadio Buendía, manusia tak akan benar-benar terikat pada suatu tempat sebelum keluarganya dikuburkan di sana. Maka selama makam itu masih ada, Timbulsloko bukan sekadar kenangan, ia adalah rumah yang selalu menjadi tujuan untuk pulang. Karena Bumi Cuma Satu, Berdaya Sekarang. (Muhammad Afriza Adha/DMC Dompet Dhuafa)

Scroll to Top