Subang–Timbulsloko, Tambakrejo, Roban Timur, Legon Wetan atau wilayah pesisir utara Jawa lainnya, mungkin memiliki sejarah, kultur, dan bahasa yang berbeda satu sama lain. Namun, bila melihat apa yang telah dan sedang terjadi sekarang, kita bisa menyimpulkan bahwa mereka terikat dalam nasib hidup yang sama: hidup di atas daratan yang perlahan-lahan ditelan laut.

Wahyudin (55), warga Desa Legon Wetan, yang kini pegiat mangrove sekaligus anggota Kelompok Tani Hutan (KTH) Pondok Putri, mengenang kembali masa-masa ketika Dusun Krajan masih menyimpan bentang alam yang ragam: kebun, sawah, hutan, dan pantai.
Ia mengingat dulu masih mudah menemukan monyet-monyet berkeliaran di sekitar hutan, sesekali mereka melompat ke pemukiman, mengambil buah jambu di atas pohon di sebuah pekarangan rumah warga.
Ia juga mengingat pantai Pondok Putri menjadi tempat orang-orang menghabiskan waktu sembari melihat matahari terbenam. Di sana juga, para pedagang asongan menjajakan barang dagangan mereka. Namun saat ini, pemandangan itu sudah berubah. Abrasi mengikis daratan hingga sepanjang 2,8 kilometer. Menyapu semua lanskap alam yang kini hanya bisa ia kenang.

Pesisir utara Jawa Barat, terutama Subang, mengalami kondisi kritis akibat krisis iklim. Kondisi ini diperparah dengan fenomena tanah yang terus menurun. Kombinasi dua hal itu mengancam kehidupan warga Legon Wetan.
“Saya pernah lihat riset salah satu universitas, pesisir Subang ini tanahnya turun sekitar 7,5 sentimeter setiap tahunnya. Berarti dalam waktu 10 tahun, ada penurunan permukaan tanah sebanyak 75 sentimeter,” ucap Wahyudin.

Tidak hanya abrasi yang pelan-pelan menggerus daratan, banjir rob juga menjadi fenomena yang selalu dihadapi Wahyudin dan warga Legon Wetan lainnya. Rob selalu datang setiap tahun, meski waktu datangnya tidak menentu, kata Wahyudin.
“Tiga bulan lalu ada rob. Saya nggak tahu kapan rob datang lagi tahun ini. Yang pasti akan terjadi lagi kalau melihat tahun-tahun sebelumnya,” kata Wahyudin.
Banjir rob yang menggenangi pemukiman mengganggu aktivitas sehari-hari warga. Selain itu, air laut yang bersifat korosif turut merusak berbagai peralatan milik warga, misalnya TV, mesin cuci, kulkas, motor, dan lain-lain. Bahkan Wahyudin sudah berkali-kali mengganti lantai keramik rumahnya yang keropos akibat air asin itu.
“Warga Legon Wetan banyak mengeluarkan biaya tidak terduga akibat banjir rob,” ujar Wahyudin.
Biaya perbaikan alat-alat elektronik, bangunan rumah, dan lain-lain akibat rob terjadi di tengah kondisi ekonomi yang sulit. Abrasi dan rob yang menyusutkan daratan hingga berkilo-kilo meter mengancam mata pencaharian warga. Terjangan rob merusak tambak-tambak ikan yang ada di sekitar pantai. Kemudian abrasi menyebabkan tambak-tambak itu jadi tidak produktif.
Sektor pertanian pun mendapatkan dampak serupa. Banyak petani padi yang gagal panen akibat sawah mereka dimasuki air laut yang dibawa oleh rob. Kerugian produksi sawah padi yang kerap kali diderita petani membuat sebagian dari mereka meninggalkan pertanian sebagai sarana penghidupannya.
“Sekarang sudah sedikit yang bertani. Mungkin nanti kita kehilangan petani sawah,” kata Wahyudin.
Apa yang terjadi di pesisir utara ini adalah dampak pelbagai persoalan yang saling silang sengkarut. Dominannya adalah faktor krisis iklim, yakni naiknya permukaan air laut seiring dengan penurunan permukaan tanah. Selain itu, faktor rusak atau hilangnya benteng alami pesisir, seperti ekosistem mangrove dan hutan di sekitar pantai.
Hilangnya ekosistem mangrove dan hutan di sekitar pesisir Subang disebabkan maraknya alih fungsi lahan. Kata Wahyudin, sebagian wilayah hutan dikonversi menjadi tambak ikan oleh warga untuk sumber penghidupan.
“Awalnya sekitar tahun 70-an sebagian dari kawasan hutan saja yang dialihfungsikan. Lama-lama hampir seluruhnya jadi tambak. Hilangnya hutan-hutan ini yang akhirnya tidak ada pelindung ketika air laut naik dan pasang,” ujar Wahyudin.
Wahyudin menyadari tempat tinggalnya tidak dalam keadaan baik-baik saja. Kini rumahnya berhadapan langsung dengan air laut. Rumah Wahyudin, termasuk rumah-rumah warga lainnya, hanya terlindung tanggul yang mereka buat untuk menahan air tidak masuk ke rumahnya.
Untuk mencegah yang terburuk terjadi dan datang lebih cepat, Wahyudin belajar tentang mitigasi abrasi pesisir. Ia belajar tentang tumbuhan mangrove yang dinilai mampu menjadi benteng alami dari gempuran abrasi.

Bersama KTH Pondok Putri, ia mengisi kawasan yang tenggelam karena abrasi dengan tanaman mangrove. Berbagai cara penanaman dilakukan mulai dari menanam langsung di pinggiran bekas tambak, hingga ditanam secara mengapung di atas air. Semua ikhtiar dilakukan untuk melindungi daratan pesisir dari abrasi.
Selanjutnya, perjuangan Wahyudin dan KTH Pondok Putri dalam menjaga pesisir menjadi lebih kuat dengan kehadiran DMC Dompet Dhuafa di pesisir utara Subang.
DMC Dompet Dhuafa Tanam 2000 Bibit Mangrove dan Dirikan Taman Konservasi di Pesisir Utara Subang
Melihat kondisi pesisir utara Subang yang kian kritis akibat krisis iklim, Disaster Management Center (DMC) Dompet Dhuafa menilai urusan lingkungan tidak lagi bisa ditunda. Pada momen Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2026, bersama KTH Pondok Putri dan warga Dusun Krajan, DMC Dompet Dhuafa menanam 2000 bibit mangrove di pesisir Dusun Krajan, Desa Legon Wetan, Kecamatan Legon Kulon, Kabupaten Subang, Jawa Barat, pada Rabu (10/6/2026).

Penanaman mangrove ini bersamaan dengan peluncuran Taman Konservasi Mangrove DMC Dompet Dhuafa di pesisir utara Subang tersebut.
“Pesisir di wilayah Legon Wetan ini dalam kondisi sangat kritis. mangrovenya sudah banyak yang hilang. Kita bermimpi untuk kemudian bisa mengembalikan ekosistem pesisir, khususnya ekosistem mangrove agar kembali menjadi sabuk hijau yang bisa diandalkan untuk bisa menahan abrasi dan banjir rob kedepannya,” ucap Ahmad Baikhaki, Kepala Bagian Lingkungan DMC Dompet Dhuafa.


Ahmad Baikhaki menjelaskan kawasan yang ditanami 2000 bibit mangrove ini menjadi kawasan Taman Konservasi Mangrove DMC Dompet Dhuafa yang tidak hanya mampu menjadi pelindung daratan tetapi juga sarana edukasi lingkungan pesisir untuk masyarakat.
“Di taman konservasi mangrove tersebut akan dibangun juga arboretum mangrove. Di dalamnya ada 20 jenis tumbuhan mangrove yang harapannya dapat menjadi sarana belajar masyarakat untuk mengenal lebih jauh tentang mangrove dan manfaatnya untuk pesisir,” lanjutnya.
Ahmad Baikhaki berharap taman konservasi mangrove ini menjadi rujukan banyak orang untuk melihat bahwa kita bisa berbuat lebih banyak dalam upaya rehabilitasi lahan kritis di wilayah pesisir utara Jawa.
“Harapan DMC Dompet Dhuafa adalah tempat ini menjadi lebih lestari dan masyarakat tidak lagi terdampak lebih besar dari banjir rob ataupun abrasi yang menghantui selama ini,” pungkas Ahmad Baikhaki.

Imam Supardan, Camat Legon Kulon, menyambut baik aksi DMC Dompet Dhuafa di Legon Wetan. Ia menilai Taman Konservasi Mangrove DMC Dompet Dhuafa di pesisir Subang tidak hanya menjadi upaya memperbaiki ekosistem pesisir, tetapi juga membawa dampak ekonomi yang baik untuk masyarakat sekitar.

“Taman Konservasi Mangrove di pesisir ini tidak hanya menjaga bumi dan masyarakat dari ancaman bencana, tetapi juga punya potensi ekonomi untuk masyarakat. Semoga masyarakat bisa memanfaatkan momen ini dengan baik sehingga bisa membuat mereka sejahtera,” ujar Imam Supardan.
DMC Dompet Dhuafa berikhtiar untuk membantu perjuangan warga Legon Wetan dalam membangun benteng terakhir yang menjaga mereka dari ancaman daratan yang tenggelam. (Muhammad Afriza Adha/DMC Dompet Dhuafa)


