Jurnalis Bencana: Jurnalisme Anti-clickbait

“First do no harm – to yourself. Also, do no harm to others,” ucap Ahmad Arif dalam paparan Webminar Jurnalisme Kebencanaan.

Seorang jurnalis dituntut menjadi ujung tombang persebaran informasi. Melalui perangkat mereka, berita disampaikan ke tangan khalayak.

Namun seringkali mereka yang tertarik menjadi jurnalis belum memiliki kesiapan yang matang. Sehingga mempengaruhi performa dan produk jurnalistik, bahkan di hal yang bersifat pribadi.

Terutama ketika hendak meliput bencana alam atau konflik sosial. Mereka sering turut menjadi korban.

Aliansi Jurnalis Indonesia (AJI) mencatat ada 84 kasus kekerasan terhadap jurnalis Indonesia pada tahun 2020. Lalu 600 jurnalis meninggal akibat Covid-19 semenjak Maret 2020 lalu.

Lantas bagaimana tips dan trik menjadi jurnalis yang keren? Ahmad Arif membagikan beberapa catatan perihal ini.

Perhatikan Tiga Hal Ini

Bekali diri dengan pengetahuan dan keterampilan yang mapan. Seringkali jurnalis muda dikirim untuk melakukan peliputan bencana alam sendiri. Baiknya mereka didampingi oleh jurnalis senior. Sehingga meminimalisir kemungkinan-kemungkinan terburuk.

Kemudian patuh terhadap kode etik jurnalisme. Jurnalis dituntut tetap mengedepankan kode etik jurnalisme. Seringkali kode etik ini diabaikan.

Lalu menghasilkan berita yang buruk dan membahayakan sang jurnalis sendiri. Hal ini diperparah dengan kondisi sosial dan politik sekitar.

Contohnya tren clickbait, di mana jurnalis mengedepankan berita sensasional. Sehingga mengurangi esensi peran jurnalis itu sendiri. Dengan kata lain hindari pendekatan bad news is goodnews.

Jangan Lukai Diri Sendiri

Bagi kawan jurnalis yang hendak melakukan liputan. Jangan sesekali memaksakan diri sendiri. Jurnalis harus memperhatikan kondisi tubuh dan mental sebelum peliputan.

Kemudian jangan pula sesekali melukai orang lain. Baik secara fisik maupun mental.

Tiada berita seharga nyawa seseorang. Sehingga tidak terjadi seorang jurnalis meninggal akibat deadline mengejar berita.

Jurnalisme Kebencanaan

Jangan melihat bencana sebagai “kejadian”. Melainkan melihat sebagai satu siklus yang kompleks.

Acapkali jurnalis hanya melakukan peliputan saat bencana terjadi. Bagian prabencana dan pascabencana luput dari pantauan jurnalis.

Pada fase prabencana jurnalis bisa mengenalkan bahaya dan memetakan risiko. Lalu memberikan tata kelola peringatan dini kesiapsiagaan

Media berperan penting dalam edukasi, memperingatkan sebelum bencana, memberi panduan saat evakuasi, dan memonitor pascabencana (Rattien, 1990).

Kemudian pada fase saat bencana jurnalis bisa mengawasi penanganan dan kebijakan secara adil serta inklusif. Menghadirkan informasi untuk penyintas bencana.

Juga menghadirkan informasi tentang penyintas bencana. Terakhir menginformasikan tentang dampak dan kebutuhan secara akurat serta cepat.

Tidak lupa juga menginfokan antisipasi bencana ikutan. Media menghubungkan antara publik dan otoritas, membuatnya sumber informasi sangat penting saat krisis (Scanlon, 2007).

Terakhir pada fase pascabencana jurnalis merupakan pengawal sosial dalam tanggap darurat dan pemulihan (Vasterman,2005).

Lalu bagaimana meliput setelah bencana? Focus pada upaya mengawal dan membangun kembali menjadi lebih baik dan lebih aman kondisi penyintas bencana.

Kemudian mampu mengidentifikasi gap dalam rehabilitasi dan rekonstruksi. Membagi informasi untuk hadapi ancaman ke depan.

Catatan Akhir

Dengan dominasi bad news is good news dan diperparah dengan pemberitaan sensasional. Kondisi ini seringkali menempatkan jurnalis tidak berpihak pada penyintas bencana.

Media di Indonesia masih banyak mengejar klenik, dan mitos. Tidak lupa mereka juga mengejar rating dan klik. Sehingga gagal mengawal pembangunan lebih baik (baca=konstruksi tahan bencana alam) pascabencana.

Para pekerja media wajib menerapkan menggunakan pendekatan humanis dalam pemberitaannya. Memahami prinsip komunikasi risiko. Terakhir menerapkan pedoman perilaku dan keamanan dalam peliputan krisis/ bencana (AFP/ DMC Dompet Dhuafa).

Hubungi Disaster Management Center Dompet Dhuafa:

Linkedin: Disaster Management Center Dompet Dhuafa

Instagram: dmcdompetdhuafa

Facebook: dmcdompetdhuafa.offical

Twitter: dmcddofficial

Youtube: DMC Dompet Dhuafa

Tiktok: dmcdompetdhuafa

Scroll to Top