Nestapa Penyintas Banjir Aceh Tamiang di Tengah Krisis Air Bersih: Bagaimana Kami Bisa Bertahan?

Aceh Tamiang—“Bagaimana kami bisa bertahan? Meski takut ada buaya terpaksalah kami pergi ke sungai,” ucap Rohani.

Rohani (50), warga Dusun Masjid, Desa Sulum, Kecamatan Sekerak, Aceh Tamiang, menceritakan pengalamannya menghadapi kelangkaan air ini. Ceritanya mewakili setiap orang di sana.

Desa Sulum demikian luluh lantak setelah banjir menyapu desa ini. Sumur-sumur yang sebelumnya digunakan jadi penuh lumpur, membuat warga tidak memiliki akses air bersih. Berhari-hari, berminggu-minggu, hingga berbulan-bulan setelahnya, kondisi itu tak berubah.

Kata Rohani, untuk memenuhi kebutuhan air mereka perlu turun ke Sungai Tamiang. Meskipun tidak sejernih yang diharapkan, tetapi air sungai tidak sebau air dari sumur-sumur mereka.

“Di sungai kami hanya mandi, cuci pakaian. Tidak untuk minum. Karena keruh juga. Untuk minum kami cari jauh di kebun sawit orang. Itulah di sana ada parit-parit kecil. Kami ambil air itu dua jerigen tapi kami endapkan dulu sebelum kami masak. Air itulah yang kami minum,” ucap Rohani.

“Air parit itulah yang kami minum. Dari situ juga kami untuk masak-masak tuh. Jadi air sungai dan sumur ini gak bisa digunakan kan. Keruhnya kayak gitu. Coba tengok tuh air lumpur semua,” tambahnya.

Namun air di parit tidak bisa selalu diandalkan. Sewaktu-waktu air parit di kebun tidak tersedia karena kering, atau di lain waktu air bisa kotor dan bau.

“Kadang itu bau banyak berak-berak monyet. Gak enak, kan?” keluh Rohani.

Rohani kini tinggal bersama suami, dua anak, dan satu cucunya. Mereka menetap di rumah panggung yang mereka bangun dari papan-papan kayu yang berserakan. Di bagian belakang rumah sederhana itu terdapat dapur tempat Rohani memasak dan mencuci perkakas makannya.

Selama bulan Ramadan ini, krisis air bersih semakin menjadi persoalan genting. Rohani mengakui kesulitan beribadah karena ketiadaan air bersih untuk berwudhu.

Kesulitan ini semakin terasa ketika warga membutuhkan air di malam hari. Bila seperti itu, Rohani biasanya meminta para lelaki di rumah untuk mengambil air parit di dalam kebun.

“Kalau malam atau sahur saya minta laki-laki ambil air di parit. ‘ambil dulu lah air di parit sana, supaya bisa untuk masak, untuk wudhu shalat subuh.’ Mereka ambilah air di kebun itu. Kalau ibu takutlah malam-malam. Maka diambil sama mereka,” ucap Rohani.

Ketiadaan akses air bersih membuat setiap kebutuhan rumah tangga bergantung pada ketersediaan air di sungai, sumur, dan parit. Air yang mereka ambil tak hanya digunakan untuk memasak dan minum, tetapi juga untuk mandi, mencuci, hingga berwudhu untuk menunaikan shalat.

“Kalau air itu gak bisa gak ada. Memang penting sekali. Air untuk minum, untuk menyuci, mandi, shalat. Air itu penting sekali, saya selalu berdoa untuk air bersih di sini,” ujar Rohani.

Aceh Tamiang, wilayah paling ujung timur Aceh, menjadi titik pertemuan antara Provinsi Aceh dan Sumatera Utara. Tak heran, sejak lama wilayah ini terdiri dari masyarakat yang majemuk. Keragaman menjadi pemandangan sehari-hari. Namun, bencana ekologis yang terjadi pada akhir 2025 membuat mereka punya persoalan yang seragam: krisis air bersih.

Sampai memasuki bulan Ramadan, atau tiga bulan lebih setelah banjir dashyat itu terjadi, persoalan ini belum tertuntaskan. Warga masih kesulitan mengakses air bersih sehingga terpaksa memanfaatkan air kotor yang bau lumpur.

Untuk mengatasi persoalan krisis air bersih yang dihadapi warga terdampak banjir di Aceh Tamiang, Disaster Management Center (DMC) Dompet Dhuafa membangun sumur bor di sejumlah titik. Di antaranya di Desa Rantau Bintang dan Desa Batang Ara di Kecamatan Bandar Pusaka, Desa Sukamakmur dan Desa Sulum di Kecamatan Sekerak, Aceh Tamiang, serta dua sumur  di Aceh Timur di Desa Batu Sumbang, Kecamatan Simpang Jernih.

Sumur Bor dan MCK diharapkan bisa dimanfaatkan warga untuk memenuhi kebutuhan air bersih sehari-hari, termasuk untuk memasak dan beribadah selama bulan Ramadan.

“Aktivasi sumur bor dan MCK ini adalah bagian dari upaya-upaya kami untuk warga terdampak dalam fase recovery.  Banyak titik di Aceh Tamiang dan sekitarnya yang masih dilanda krisis air bersih dampak dari banjir. Dengan adanya sumur bor dan mck di wilayah hunian mereka semoga proses pemjulihan warga terdampak semakin membaik dan cepat,” ujar Ahmad Yamin, Penanggung Jawab Respons DMC Dompet Dhuafa untuk Aceh Tamiang.  

Kawan Baik, semoga sumur bor DMC Dompet Dhuafa di Dusun Masjid, Desa Sulum, dan wilayah lainnya mampu menjawab kesulitan warga terdampak terkait kelangkaan air bersih akibat bencana banjir. Karena Bumi Cuma Satu, Berdaya Sekarang. (Muhammad Afriza Adha/DMC Dompet Dhuafa)

Scroll to Top