Ramadan di Pengungsian, Perjuangan dan Harapan Penyintas Banjir Aceh Tamiang

Aceh Tamiang—Samiran merebahkan tubuhnya di dalam tenda pengungsian. Ia baru saja tiba dari tempatnya bekerja sebagai kuli panggul kayu di Desa Bukit Batu Tiga. Samiran, hari itu, hanya bekerja setengah hari. Di usianya yang telah menginjak kepala lima, mengangkut kayu di tengah ibadah puasa bukan pekerjaan ringan.

Upah harian dari bekerja Samiran berikan ke anak perempuannya, Satika, untuk membeli bahan makanan. Di dalam tenda yang sama dengan tempat mereka tidur, Satika memasak air, nasi, dan lauk untuk berbuka.

Sudah lebih dari tiga bulan Samiran tinggal di tenda pengungsian bersama dua anaknya di Dusun Melati, Desa Benua Raja, Kecamatan Rantau, Aceh Tamiang, setelah banjir bandang menerjang rumahnya pada 25 November 2025. Terjangan air itu merobohkan bangunan tempat tinggalnya dan hanya menyisakan puing-puing rumah yang tak lagi layak huni. Sejak saat itu, ia terpaksa bertahan di dalam tenda, bahkan hingga bulan Ramadan ini.

Samiran dan keluarga menempuh bulan Ramadan tahun ini sebagai penyintas bencana. Ramadan yang sama sekali berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Di tahun ini, ibadah Ramadan harus Samiran jalani di tengah kondisi serba terbatas.

“Bulan Ramadan tahun ini masih harus di pengungsian. Bersyukur masih dikasih sehat wal afiat. Walaupun sebetulnya ya memang Ramadan kali ini tidak sebahagia tahun-tahun lalu,” ujar Samiran.

Samiran bilang banyak momen-momen yang tak bisa terulang di Ramadan tahun ini. Ia merindukan berkumpul bersama sanak keluarga saat berbuka puasa. Sekarang ini hal itu tidak terjadi. Bencana banjir bandang mengubah semuanya, membuat setiap orang sibuk dengan kesulitannya masing-masing.

“Ramadan sebelumnya kadang-kadang datang keluarga dari mana-mana. Walaupun satu hari saja. Kita berkumpul saling bersilaturahmi. Tapi kan sekarang pun semua orang punya nasib yang sama. Banjir ini kan hampir di semua Aceh Tamiang. Semua daerah kena. Sama-sama kena musibah ini,” kata Samiran.

Ada sekitar tujuh tenda di sekitar tenda Samiran. Rumah mereka hancur akibat banjir dan belum ada kepastian soal rumah sementara. Selama Ramadan, di tengah kondisi cuaca tak menentu, panas dan hujan mereka hadapi di dalam tenda kecil.

“Enggak semewah di rumah sendiri. Ya walaupun rumah kami gak bagus, tapi nyaman. Semua terlengkapi. Kalau hujan besar, kita kedinginan. Kalau panas, debu banyak sekali. Malam juga nyamuk itu banyak sekali. Tidur tidak nyaman,” kata Samiran.

“Kalau musim hujan susah. Musim panas juga susah. Macam mana bisa dibilang ya. Kalau saya renungi, berlinang air mata ini karena sedih. Tapi mungkin sudah kehendak-Nya. Sebagai muslim kita hanya bisa bertakwa,” tambahnya.

Menjadi panggul kayu adalah hal baru baginya sejak bencana banjir bandang 25 November lalu. Sebelumnya, Samiran menghidupi dua anaknya dari penghasilannya sebagai buruh tani di kebun kopi di Takengon.

Saat ini ia hanya menunggu panggilan bekerja di kebun karet untuk memanggul kayu-kayu. Dari upahnya itu, dapur di tenda tetap mengepul. Samiran bilang dengan besaran upah yang tidak seberapa, tak ada yang bisa ia sisihkan untuk ditabung. Ia hanya bisa menutupi kehidupan sehari-hari keluarga di bulan Ramadan ini—untuk berbuka dan sahur.

Perlu diketahui, per 24 Februari 2026, sebanyak 26.095 orang tercatat masih mengungsi di tenda pengungsian pascabencana banjir bandang dan tanah longsor di Sumatera Utara, Sumatera Barat dan Aceh. Sebagian pengungsi berada di wilayah Aceh.

Selain menghempaskan rumah mereka, bencana banjir bandang membuat warga kehilangan sumber penghidupannya. Hingga saat ini perekonomian rumah tangga penyintas belum pulih sepenuhnya. Bantuan logistik dari berbagai pihak masih mereka perlukan.

“Di bulan Ramadan ini harapannya, kami semua yang terkena bencana, perekonomian kami bisa berbalik macam semula. Itulah yang kami harapkan. Biar kami bisa senyum lagi seperti dulu,” pungkas Samiran ketika ditanya tentang harapannya di bulan suci Ramadan ini.

Kawan Baik, Ramadan di pengungsian tidak memberikan nyamannya rumah dan hangatnya silaturahmi keluarga seperti tahun-tahun sebelumnya. Namun, mari kita bantu Samiran dan penyintas lainnya untuk tetap bertahan dengan berpegang pada harapan bahwa kehidupan yang lebih baik akan datang untuk mereka. Karena Bumi Cuma Satu, Berdaya Sekarang. (Muhammad Afriza Adha/DMC Dompet Dhuafa)

Scroll to Top