Kabupaten Batang—Laut adalah segalanya bagi warga Roban Timur, Kabupaten Batang, Jawa Tengah. Keberadaan laut sangat menentukan banyak hal dalam hidup mereka. Tidak bermaksud melebih-lebihkan, tetapi memang untuk mereka laut adalah kehidupan itu sendiri.
Sebagaimana yang diceritakan Hariyono (48), warga Roban Timur, mengatakan Kakek dan Ayahnya adalah nelayan. Saudara lelakinya pun nelayan. Ia sendiri menjadi nelayan sejak lulus SD.
Hariyono masih mengenang masa ketika aktivitas melaut masih mudah dan menghasilkan. “Kalau dulu enak mas, nyari ikan itu nggak usah jauh-jauh sampai dua jam. Satu jam bahkan cuma 30 menit aja dari pantai kita bisa dapat ikan, kepiting, udang, cumi,” kata Hariyono.

Pada saat itu, Hariyono bilang, dengan jarak ruang tangkap ikan yang dekat dan luas nelayan bisa memperoleh satu juta rupiah dalam sehari. Dan ongkos bahan bakar untuk mesin kapal tidak terlalu besar, sehingga keuntungan yang didapat bisa maksimal.
Dari apa yang diceritakan Hariyono mewakili keadaan para nelayan lainnya. Tak ayal, ketika laut menawarkan hasil laut yang melimpah, warga Roban Timur tetap mempercayakan hidupnya pada mata pencaharian sebagai nelayan.
Namun, apa yang diceritakan Hariyono tidak menggambarkan kondisi yang dihadapi nelayan di waktu-waktu belakang ini. Hariyono bilang semenjak tahun 2021-2022, tepatnya saat PLTU Batang mulai beroperasi, ruang tangkap nelayan semakin menyempit. Banyak titik-titik di mana ikan berkumpul rusak, hilang, dan terganggu akibat aktivitas kapal-kapal tongkang batu bara.

Akibatnya nelayan harus menempuh jarak yang lebih jauh untuk melaut. Jarak tempuh melaut bisa dua kali lipat dari jarak sebelumnya, saat bangunan PLTU Batang belum terpancang di bagian barat pesisir Roban Timur.
Meskipun menempuh jarak yang lebih jauh, tidak menjamin nelayan bisa mendapatkan hasil laut yang banyak. Padahal untuk menggerakkan kapal ke area tangkapan perlu memakan bahan bakar sebesar 40-45 liter atau bahkan 60 liter solar. Dengan kata lain, nelayan perlu punya modal untuk bahan bakar sekitar Rp540.000 (jika satu liter solar bernilai Rp9000)
“Kalau dulu 20 liter aja udah nyampe. Kalau sekarang 40-45 liter. Bahkan 60 liter,” ucap Hariyono.
Kondisi yang ada saat ini membuat nelayan kesulitan mendapat ikan. Hal ini memaksa anak-anak muda di Roban Timur mulai mencari pekerjaan di luar profesi sebagai nelayan. Mereka lebih memilih keluar Roban Timur dan menjadi buruh yang bergantung pada upah.
Hariyono sendiri membuka warung kecil di samping rumahnya bersama sang istri untuk menambal biaya hidup sehari-hari yang sulit jika hanya bergantung pada hasil melautnya.
“Pokoknya yang di laut itu penghasilannya pokoknya surutlah agak berkurang,” keluhnya.
Krisis Iklim dan Ancaman Abrasi
Tidak hanya kesulitan dalam mencari ikan, krisis iklim yang sedang terjadi membuat abrasi menjadi momok yang membuat Hariyono khawatir. Pasalnya, garis pantai Roban Timur semakin menyusut. Deburan ombak besar dan permukaan air laut yang terus naik, membuat warung dan rumahnya terancam abrasi.
Cerita lain dari Wahyudi (49) nelayan Roban Timur. Ia mengeluhkan kondisi cuaca tak menentu di laut yang kerap membahayakan para nelayan saat mencari ikan.

Wahyudi masih aktif melaut sampai saat ini. Subuh, saat langit masih gelap, ia mendorong perahunya yang berlabuh di dermaga Roban Timur. Dari dermaga ia menempuh perjalanan selama 2 jam untuk mencapai lokasi tangkapan.
Sekitar pukul 14.00 siang, Wahyudi bergerak ke pantai dengan membawa hasil tangkapannya. Hasil tangkapan lautnya langsung ia serahkan kepada istrinya untuk dijual di tempat pelelangan ikan (TPI) Dusun Roban Timur.
“Setiap hari seperti itu. Saya melaut, istri menjual di pelalangan. Libur hanya Jumat. Tetapi akhir-akhir ini saya tidak bisa setiap hari juga melaut, karena cuaca sudah tidak jelas,” ujar Wahyudi.
Dengan kapal sederhana yang terbuat dari material kayu, kondisi cuaca di laut menjadi ancaman tersendiri untuk nelayan. Kapal mudah terombang-ambing. Hujan, angin kencang, dan ombak besar bisa membuat kapal terbalik.
Nelayan sebetulnya punya “kalender melaut”. Mereka tahu kapan musim yang baik dan tidak untuk melaut. Tetapi, Wahyudi bilang, sekarang ini cuaca tidak bisa diprediksi.
“Pernah saya pergi cuaca masih bagus. Setelah satu jam perjalanan, di tengah laut ada awan gelap. Seperti badai. Akhirnya saya putar balik,” kata Wahyudi.
Kata Wahyudi, kondisi cuaca tak menentu kerap membuat nelayan merugi. Bahan bakar terlanjur digunakan sebelum akhirnya kembali tanpa hasil untuk menghindari badai.
“Sekarang bulan Mei ini seharusnya sudah masuk kemarau. Musim yang bagus buat nelayan. Tapi sudah tiga hari ini hujan selalu turun. Kami tidak bisa melaut,”ucapnya.
Wahyudi bingung kenapa akhir-akhir ini cuaca tidak jelas. Banyak kasus nelayan tidak pergi melaut karena cuaca buruk meskipun sudah membeli banyak bahan bakar.
Tidak hanya cuaca yang tidak menentu, kondisi ekosistem yang rusak di pesisir memengaruhi ruang tangkap nelayan.
Banyak karang alami tempat ikan-ikan bertelur, udang, cumi, kepiting dan lainnya, rusak. Bongkar muatan batubara kapal-kapal tongkang di wilayah pesisir seringkali tumpah ke laut dan merusak jaring-jaring nelayan.
Tidak hanya itu, krisis iklim atau saat kondisi panas di bumi semakin tinggi, menyebabkan dampak merusak di sekitar pesisir. Abrasi sering terjadi. Banjir rob kian rutin datang dengan ketinggian yang terus bertambah.
“Saya gak mengerti ya, di depan ini (Wahyudi menunjuk pantai di depannya) dulunya itu jauh. Tetapi ini semakin kemari (Wahyudi menunjuk ke depan tak jauh dari tempatnya duduk). Apakah ini ada pengaruh dari PLTU atau tidak. Saya nggak tahu. Saya nggak bisa menyimpulkan,” ujar Wahyudi.
Perempuan Pesisir Roban Timur Sebagai Pencari Nafkah Kedua
Wahyudi bercerita tentang peran perempuan di Roban Timur dalam membantu menambah penghasilan keluarga. Seperti istrinya, banyak perempuan di sana yang menjual hasil tangkapan laut suami mereka.
“Kalau saya pulang jam 2, terus istri saya langsung simpan ikan ke kotaknya. Jadi saya pulang, istri saya ambil ikannya dari perahu, langsung dibawa ke pelelangan,” ucap Wahyudi.
“Memang sudah dari dulu sistemnya kayak gitu. Sampai sekarang,” lanjutnya.
Mereka tidak melaut, tetapi para ibu-ibu Roban Timur berperan penting dalam menjual hasil tangkapan nelayan.

Setiap sore para perempuan memenuhi TPI. Meletakkan kotak sterofom berisi ikan, udang, kepiting, dan lainnya, untuk dijual. Mereka melakukan tawar-menawar harga dengan calon pembeli dari luar Roban Timur.
Selain menjual langsung di tempat pelelangan, Wahyudi menjelaskan banyak juga perempuan yang mengolah hasil laut yang tak terjual menjadi olahan seperti ikan asin.
Ikan asin yang telah dijemur di bawah sinar matahari selama 2-3 hari itu dijual ke pasar secara langsung. Sayangnya, ikan asin tidak selalu habis terjual, dan bila terjual pun tidak punya nilai jual yang baik.
Evriani (35), perempuan pesisir Roban Timur, menceritakan akhir-akhir ini selalu merugi ketika mengolah ikan asin lantaran cuaca yang buruk. Ikan asin tak berhasil dijemur selama waktu semestinya, matahari sering tertutup awan mendung dan hujan.
“Kalau misalnya hujan selama 3-5 hari. (ikan yang dijemur) jadi dibuang. Jadi rugi. Kalau disimpan terus pakai es kita tambah biaya terus untuk esnya, padahal kita nggak tahu kapan hujan berhenti,” cerita Evriani.
Evriani bilang untuk proses yang lama itu dalam mengolah ikan asin pendapatan yang diterima dari penjualan berkisar Rp500 ribu, dan itu tidak utuh untuk satu pengolah.

“Lima ratus ribu itu juga dibagi-bagi untuk yang kerja milet (filet) ikan, bayar balok es. Yang didapat juga nggak banyak sebenarnya,” ujarnya.
Selanjutnya Evriani menyadari kondisi akhir-akhir ini begitu sulit untuknya dan perempuan-perempuan pesisir Roban Timur. Ruang tangkap nelayan yang semakin jauh jaraknya, ikan-ikan dan hasil laut lainnya yang tak berlimpah seperti dulu, cuaca buruk yang sulit diprediksi, semua itu berujung pada pendapatan rumah tangga nelayan yang semakin terhimpit beban ekonomi sehari-hari.
“Sekarang cari untung lima ratus ribu saja susah,” katanya.
Upaya DMC Dompet Dhuafa dan WALHI Jateng di Roban Timur
Pada Jumat (23/5/2025) pagi, Evriani membuka kotak berisi ikan asin yang telah ia olah sebelumnya. Ia mengambil ikan asin sebanyak satu genggaman tangannya. Menaruhnya di kantong plastik kecil. Evriani hendak membawa sekantung ikan asin itu ke Tempat Pelelangan Ikan (TPI).

Di TPI, Disaster Management Center (DMC) Dompet Dhuafa dan WALHI Jateng mengadakan forum diskusi yang bertajuk Peningkatan Kapasitas Kelembagaan dan Rumah Produksi. Sepuluh ibu rumah tangga Roban Timur, Evriani salah satunya, berkumpul. Mereka menyimak, dan saling menanggapi diskusi tentang olahan hasil laut.
Pelatihan ini bertujuan untuk memberikan keterampilan kepada perempuan di Roban Timur agar mereka dapat mengolah hasil laut yang mereka terima dari suami, seperti ikan, udang, dan cumi, menjadi berbagai produk olahan yang lebih bernilai, seperti makanan baby crab crispy, stick ikan layur, dendeng ikan atau makanan olahan lainnya.

Dengan pengolahan yang tepat, hasil tangkapan laut tidak hanya terjual langsung, tetapi bisa dikemas dalam bentuk yang lebih tahan lama dan bernilai lebih tinggi, membuka peluang pasar yang lebih luas.
Isrofah, ketua Koperasi Pemasaran Demak, menjadi narasumber dalam kegiatan tersebut. Ia membagikan pengalamannya selama ini dalam mengolah dan menjual hasil laut para nelayan di Demak.
“Jadi kalau misalnya musim melaut, kemudian ada layur, ikan lais, baby crab, terus banyak lagi tadi itu bisa dibikin crispy-crispy yang justru itu harga jualnya bisa empat kali lipat. Dan itu bisa dijual di kota tentu saja, di dinas-dinas atau dititipkan di warung-warung atau di pusat oleh-oleh,” ujar Isrofah.

Kata Isrofah, semua yang ditangkap nelayan bisa diolah menjadi makanan yang bergizi dan bernilai jual tinggi. “Di sini kepiting kecil itu dibuang karena dianggap tidak bisa dijual, padahal kalau diolah dengan kreatif bisa punya nilai jual juga.”
Putri Alya Firdaus, staf Lingkungan DMC Dompet Dhuafa menjelaskan upaya DMC dan WALHI di Roban Timur merupakan satu bagian dari program Kawasan Pemulihan Pesisir di pesisir utara Jawa Tengah. Alya bilang kondisi rumah tangga nelayan terganggu akibat ekosistem pesisir yang rusak. Krisis iklim mempereparah, memengaruhi juga aktivitas melaut nelayan.
“Keberhasilan pelatihan ini diharapkan dapat memberikan dampak ekonomi yang signifikan bagi keluarga nelayan. Melalui produk olahan, perempuan pesisir Roban Timur bisa menambah pendapatan rumah tangga mereka, membantu memperkuat ekonomi keluarga, dan menciptakan peluang kerja bagi masyarakat sekitar,” ujar Alya.

Selain itu, pengolahan hasil laut juga dapat mengurangi ketergantungan pada penjualan langsung yang seringkali tidak stabil harganya, terutama saat hasil tangkapan melimpah atau sebaliknya, langka.
Langkah ini juga menjadi bagian dari upaya untuk meningkatkan ketahanan ekonomi masyarakat pesisir di tengah berbagai tantangan yang mereka hadapi, baik itu dari segi ruang tangkap yang semakin sempit akibat dampak lingkungan maupun cuaca yang tidak menentu.
Kawan Baik, dengan keterampilan baru dalam mengolah hasil laut, perempuan di Roban Timur dapat memainkan peran penting dalam keberlanjutan ekonomi mereka sendiri, sekaligus mendukung ketahanan pangan keluarga nelayan di tengah krisis iklim. Karena Bumi Cuma Satu, Berdaya Sekarang. (Muhammad Afriza Adha/DMC Dompet Dhuafa)


